detikNews
Senin 25 Februari 2019, 13:25 WIB

Akui Tradisi 'Kawin Gantung', Ortu: Hilda Lari Bukan Dijodohkan

Deden Rahadian - detikNews
Akui Tradisi Kawin Gantung, Ortu: Hilda Lari Bukan Dijodohkan Hilda Fauziah (18) (Foto: Istimewa)
Tasikmalaya - Hilda Fauziah (18) hilang sejak November 2018. Awalnya sang ibu, Ailah (42), menyebut anaknya tersebut kabur dari rumah gegara dijodohkan. Namun kini Ailah meluruskan ungkapannya tersebut.

"Saya ralat, anak saya enggak lari (kabur) akibat mau dijodohkan," kata Ailah di kantor Desa Cikawung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (25/2/2019).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya menemukan fakta-fakta bahwa di Kampung Cijambu, tempat Hilda bermukim, terdapat tradisi 'kawin gantung'. Ailah mengakui soal 'kawin gantung ini.



Bahkan, menurut dia, Hilda sudah menyanggupi nikah dengan pria tetangganya bernama Uyep. "Memang sudah tradisi (soal 'kawin gantung'), ditandai sejak kecil di sini (tradisi di Kampung Cijambu). Anak saya hilang dua pekan menjelang pernikahan dan sebelumnya mengiyakan mau dinikahi Uyep," tutur Ailah.

Dia menjelaskan soal 'kawin gantung' disampaikan saat Hilda kelas 2 SMA. Kini Hilda sudah lulus sekolah.

"Jadi tentang rencana nikah itu sudah dikasih tahu satu tahu sebelum lulus SMA," kata Ailah.

Keluarga meminta Hilda pulang dan kembali berkumpul. Ailah berjanji tidak akan memaksa Hilda menikah.

"Segera pulang. Dimana pun berada, Hilda keadaan selamat dan sehat. Ibu sangat rindu Hilda," ucap Ailah sambil menangis.


KPAID Kabupaten Tasikmalaya menyebar tim satgas untuk mencari Hilda. Berdasarkan investigasi di lapangan, KPAID menemukan tradisi turun temurun terkait pernikahan anak gadis di Kampung Cijambu, termasuk menimpa Hilda.

"Istilah kami ya 'kawin gantung', ini ternyata terjadi di tengah masyarakat kita," ucap Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto di kantor Desa Cikawung.

Gambaran tradisi tersebut, sambung Ato, anak gadis sudah dilamar pria sejak lulus dari sekolah dasar (SD). Meski tidak terjadi pernikahan dini, dia menjelaskan, keluarga perempuan tidak akan lagi menerima pria lain jika disepakati kedua belah pihak. Syaratnya, menurut Ato, anak gadis warga Cijambu hanya menikah dengan pria keturunan warga Cijambu, tidak dengan daerah yang lain.

"Jadi temuan kami ada tradisi lokal yang terjadi di tengah masyarakat kampung Cijambu. Anak begitu lulus SD langsung ditandai oleh pria yang menyukainya. Kalau sudah disepakati, anak gadis ini tidak bisa pindah ke lain hati, walau pun tidak dinikahkan saat di bawah umur," tutur Ato.


(bbn/bbn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com