Agus Kurnia (35), salah satu sopir bus DAMRI menyampaikan, untuk sekali perjalanan, penumpang yang dia angkut umumnya tidak lebih dari tujuh orang. Itu pun, kata dia, sebagian naik di tengah perjalanan.
Tarif untuk trayek ini dipatok Rp 70 ribu. Jika titik pemberangkatan dan pemberhentian lebih pendek, Agus mengatakan, ongkosnya lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kadang untuk solar saja kurang, terpaksa minta ke kantor," ujar Agus kepada detikcom, Kamis (14/2/2019).
Menurut dia, angkutan DAMRI rintisan Pangandaran-Sindangbarang merupakan program Kementerian Perhubungan. Sejauh ini, Agus menjelaskan, proyek tersebut masih mendapat sokongan subsidi dari pemerintah.
Rendahnya geliat ekonomi di kawasan Jabar Selatan, menurut dia, dipercaya sebagai salah satu penyebab rendahnya penumpang. Faktor lainnya, Agus melanjutkan, informasi mengenai angkutan tersebut masih terbatas.
Para penumpang yang mengakses angkutan DAMRI Pangandaran-Sindangbarang, ujar Agus, umumnya untuk kepentingan keluarga. Entah itu pulang kampung atau mengunjungi saudara.
"Yang kepentingan bisnis, usaha, jarang. Paling nelayan, ada yang melaut di Pangandaran atau sebaliknya," kata Agus.
Jumlah armada DAMRI yang ditempatkan di rute ini sebanyak empat unit. Sementara sopir yang ditugaskan enam orang, yang bekerja bergantian.
Bagi warga yang ingin mengakses angkutan ini, Agus menginformasikan, pemberangkatan dilakukan setiap hari, yaitu pukul 07.00 dan pukul 10.00 WIB, baik dari Pangandaran mau pun Sindangbarang. Jarak tempuhnya, menurut Agus, berkisar antara 6 hingga 7 jam.
Meski sekarang masih minim penumpang, Agus yakin seiring waktu, angkutan Pangandaran-Sindangbarang semakin dibutuhkan dan dikenal warga. (bbn/bbn)











































