DetikNews
Sabtu 09 Februari 2019, 15:58 WIB

Penampakan Rumah Keluarga Bakri di Cianjur yang Masak Makanan Basi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Penampakan Rumah Keluarga Bakri di Cianjur yang Masak Makanan Basi Foto: Syahdan Alamsyah
Cianjur - Keluarga Bakri (72) di Kampung Kiarapayung, Desa Ramasari, Kecamatan Haurwangi, Cianjur, Jawa Barat hidup dengan penuh keterbatasan. Tinggal di gubuk semi permanen di tengah sawah, keluarga kecil Bakri luput dari perhatian pemerintah.

Bangunan berukuran 12 meter persegi di tengah sawah yang ditinggali Bakri bersama sang istri Aisyah (40- sebelumnya tertulis 65 tahun) dan putranya Jujun (9) kondisinya memprihatinkan, tanpa jamban dan terlihat pengap.

Detikcom menyambangi kediaman Bakri pada Sabtu (9/2/2019) siang, di tempat itu hanya ada Aisyah dan Jujun. Bakri sedang tidak ada di tempat. Menurut Aisyah, suaminya itu sedang mengemis di sekitar pasar Ciranjang.

"Suami saya jajaluk (mengemis) ke pasar pulang Ashar kalau enggak sorean, paling juga ke Pasar Ciranjang berangkat pagi jalan kaki dari rumah," kata Aisyah didampingi ketua RW 06, Dayat.

Aisyah enggan menanggapi soal keluarganya yang pernah tepergok memasak masakan busuk hasil memulung oleh relawan Cianjur Aktivis Independen (CAI) yang belakangan jadi sorotan. Dia hanya menegaskan apapun yang dibawa suaminya dia akan makan.

"Suami pulang jajaluk bawa makanan. Apa saja kalau memang suami saya bawa ya kami masak lalu makan," tutur Aisyah.

Aisyah mengaku sudah tinggal selama 15 tahun di tempat itu bersama suaminya. Buah perkawinan mereka dikaruniai dua orang anak namun anak pertama meninggal dunia yang tersisa hanya Jujun.

"Jujun sekolah di SLB, dulu sering ikut minta-minta dengan bapaknya. Tapi pernah kejadian hilang, akhirnya sudah enggak ikut-ikut lagi," kata dia.

Ketua RW 06 Dayat membantah warganya tidak perhatian dengan kondisi keluarga Bakri. Warga kerap bergantian memberikan makan seadanya kepada keluarga Bakri, namun seiring waktu warga merasa bosan karena Bakri enggan mengubah pola hidupnya.

"Rumah ini juga dibangun swadaya warga dulu, bahkan saya juga kalau ada rezeki sering ngasih ada beras ya beras ada makanan ya makanan. Cuma memang keluarga ini kan memang dikenal menyandang disabilitas mental, ke warga juga sedikit tertutup akhirnya warga bosan karena keluarga ini tidak mau mengubah cara hidupnya yang memang maunya ya begini saja," beber Dayat.



Dayat membenarkan Bakri asli warga setempat. Tanah yang berdiri bangunan rumah adalah warisan dari orang tuanya. Begitu juga dengan sawah yang terhampar di dekat bangunan itu.

"Ini tanah warisan orang tuanya, Pak Bakri ini juga punya anak sudah besar dan kerja hasil dari pernikahannya sebelum dengan Aisyah. Anaknya juga permah sedikit-sedikit memperbaiki rumah orang tuanya ini," tambahnya.

Dayat berharap kalau memang ada dermawan yang mau membantu membangunkan rumah keluarga Bakri warga akan membantu untuk proses pembangunannya. "Kita terbuka lebar kalau memang ada yang mau membangun rumah Pak Bakri, saya siap turun tangan," tandas dia.
(sya/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed