detikNews
Rabu 16 Januari 2019, 21:51 WIB

Semangat Bocah Padalarang Melawan Tumor Sinonasal

Rachmadi Rasyad - detikNews
Semangat Bocah Padalarang Melawan Tumor Sinonasal Farhan, bocah hebat melawan tumor sinonasal. (Foto: Rachmadi Rasyad/detikcom)
Bandung Barat - Semangat Farhan Sambarana melawan penyakit langka tumor sinonasal patut diacungi jempol. Bocah yang bercita-cita menjadi polisi ini selalu ceria seakan tak peduli dengan sakit yang dideritanya.

detikcom berkesempatan bertemu langsung dengan Farhan di rumahnya Kampung Cikurutug, RT 1 RW 11, Desa Cempakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Saat bertemu tak ada wajah muram, yang ada senyum ceria menyapa.

Secara fisik tumor yang diderita Farhan membuat perubahan pada wajah sebelah kiri terlihat membengkak hingga mata bergeser. Selain fisik, bocah 11 tahu itu pun terlihat kesulitan untuk bernapas melalui hidungnya.

Entin (44), Ibunda Farhan, menuturkan tumor yang diderita anaknya mulai bersarang sejak tahun 2014 diduga akibat hantaman bola saat bermain bersama teman sebayanya.

Setelah kejadian itu, anaknya kerap mimisan satu kali dalam seminggu. Tiga bulan kemudian, benjolan pada wajah anaknya mulai terlihat dan terus membesar.

Menurut Entin satu bulan ke belakang benjolan tersebut semakin membesar setelah tak sengaja kesikut oleh temannya di sekolah. Sikutan tersebut menyebabkan benjolan memar dan berwarna kebiruan.

"Sebelumnya enggak sebesar ini. Sebulan yang lalu kesikut temannya jadi tambah membesar. Sampai biru dan memar di dalam," tutur Entin saat mendampingi Farhan, Rabu (16/1/2019).

Ibu dua anak ini mengaku sudah membawa Farhan untuk berobat menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) ke berbagai rumah sakit seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dan Rumah Sakit Cahya Kawaluyan (RSCK). Bahkan Farhan sudah tiga kali operasi di RSHS sejak tahun 2016 tapi tak kunjung membaik.

Pasca operasi, Farhan sempat dua kali melakukan kontrol ke RSHS. Namun sejak tahun 2017, Farhan tidak lagi kontrol karena terkendala biaya.

Dari hasil pemeriksaan terakhir, tumor yang diderita Farhan sudah mendekati otak sehingga perlu penanganan lebih lanjut.

Namun karena alasan biaya, Entin merasa bingung dan hanya bisa berusaha. Sebab sehari-hari ayah Farhan mendapat penghasilan tak menentu dari hasil rongsok pasca terkena PHK tahun 2012 lalu. Sementara Entin mencari tambahan dengan membantu kakanya berjualan batagor.

"Sekarang kondisinya leher menyempit. Napas dari mulut karena hidung tidak berfungsi lagi sejak tahun 2014," ujarnya.

Saat ini, Farhan masih duduk di bangku sekolah kelas enam di SDN Medalsirna. Farhan selama ini dikenal sebagai sosok pendiam dan jarang sekali mengeluh mengenai sakit yang dideritanya.

Sesekali Farhan hanya merasa pegal pada bagian wajah kirinya tapi tidak merasakan sakit. Namun ia mengaku cukup kesulitan untuk bernapas menggunakan hidung.

"Kerasanya pegel. Enggak sakit. Susah nafas dari hidung," ujar Farhan yang bercita-cita menjadi polisi ini.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed