DetikNews
Minggu 13 Januari 2019, 09:43 WIB

Kisah Marbot Kosih dan Gubuk Seluas Pos Ronda di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kisah Marbot Kosih dan Gubuk Seluas Pos Ronda di Sukabumi Kisah marbot di Sukabumi tinggal di gubuk seluas pos ronda (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi - Abah Kosih (79) duduk termangu di 'teras' rumahnya yang hanya seluas pos ronda di Kampung Cicadashilir, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Sukabumi. Tetangga bukan tidak ingin membantunya, kondisi mereka nyaris serupa hidup dengan keterbatasan.

Ketika hujan, bilik rumah abah kerap bocor dan membasahi tubuhnya. Ketika hujan, abah memilih bermalam di masjid, sama seperti sebelum dibangunkan rumah ala kadarnya oleh dua orang tetangga Mak Yayat (50) dan Mak Cacih (49).

"Kalau hujan air 'sawer' (menciprat) masuk ke dalam, abah suka ke masjid aja bermalam di sana," lirihnya kepada detikcom, Sabtu (12/1/2019).

Abah mengaku sudah sekitar 6 tahun tinggal di rumah tersebut, sebelumnya dia kerap bermalam di masjid. Karena kasihan, Cacih kemudian membuat rumah seluas 2,5 x 2,5 meter untuk abah di tanah miliknya.

Ketika atap bocor, Yayat dan Cacih bergantian membetulkannya. Apa saja mereka gunakan untuk mengganjal bilik keropos di bagian langit-langit gubuk. Sebuah kalender bergambar Walikota Sukabumi Achmad Fahmi tampak terselip di atas bilik.


"Apa saja saya gunakan, itu juga (kalender) dapat saya lumayan bisa menutup keropos di atas. Mohon dimaklumi mau dibuat bagus juga kami rejeki kami seadanya, kalau ada rejeki apa yang saya makan itu juga yang saya berikan ke beliau," kata Yayat, dia terus mendampingi abah Kosih saat berbincang dengan detikcom.

Kakak beradik itu tulus memperhatikan abah, mereka menganggapnya sebagai pengganti orang tua mereka yang sudah meninggal dunia. Terlebih abah masih berstatus keluarga keduanya.

"Abah itu mamang (paman) kami, sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri. Kami sudah tidak punya orang tua, beberapa kali diajak tinggal bersama abah nolak. Karena itulah akhirnya kami bangunkan gubuk ini," tutur Yayat.

"Keinginan kami ada yang bisa mengulurkan bantuan, rumah abah dibangun lebih layak karena perhatian pemerintah nyatanya belum ada. Adik saya (Cacih) merelakan tanahnya dipakai apabila memang ada yang mau membuatnya lebih layak," menambahkan.

Seperti diberitakan, kehidupan Abah Kosih (79) terlihat begitu miris, hidup di bangunan mirip pos ronda di Kampung Cicadas Hilir, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi.

Setiap hari, abah mengurus Masjid Qubbatul Islam yang berjarak hanya sekitar 500 meter dari tempatnya tinggal. Berjalan menggunakan tongkat, abah memulai harinya menjadi marbot di masjid tersebut. Terkadang suaranya yang parau kerap terdengar melengking mengingatkan waktu salat untuk masyarakat sekitar.

"Abah mah sendiri saja, anak ada dua yang satu meninggal satu lagi sudah 10 tahun enggak pernah bertemu. Dia dibawa sama suaminya ke Jawa Timur, abah bersih-bersih masjid kalau waktu adzan belum ada siapa-siapa abah adzan," kata Abah
(sya/mud)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed