Reaktivasi Jalur Kereta ke Pangandaran Dinantikan Turis Belanda

Reaktivasi Jalur Kereta ke Pangandaran Dinantikan Turis Belanda

Andi Nurroni - detikNews
Rabu, 09 Jan 2019 16:24 WIB
Pengendara motor melintas di sekitar bekas Stasiun Pangandaran, Jawa Barat. Rencana reaktivasi jalur kereta Banjar-Pangandaran disambut gembira para pengusaha jasa wisata. (Foto: Andi Nurroni/detikcom)
Pengendara motor melintas di sekitar bekas Stasiun Pangandaran, Jawa Barat. Rencana reaktivasi jalur kereta Banjar-Pangandaran disambut gembira para pengusaha jasa wisata. (Foto: Andi Nurroni/detikcom)
Pangandaran - Peluncuran layanan Kereta Api Pangandaran dengan relasi Jakarta-Bandung-Banjar (PP) awal tahun ini menerbitkan harapan dibukanya kembali jalur legendaris Banjar-Pangandaran. Dari sisi pariwisata, reaktivasi jalur ini diprediksi menjadi daya tarik bagi turis mancanegara, khususnya dari Belanda.

Di kalangan pemandu wisata yang biasa melayani turis asal Belanda, peninggalan dan cerita seputar jalur kereta Banjar-Pangandaran selalu menjadi daya tarik. Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Association of Tour and Travel Agencies of Pangandaran (ATTAP) Ipik Taupik.

"Banyak turis-turis Belanda yang datang ke sini (Pangandaran) merupakan generasi ketiga dari keluar Belanda yang sempat tinggal di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Mereka penasaran mengetahui proyek monumental peninggalan nenek-moyang mereka, yaitu jalur kereta Banjar-Pangandaran," tutur Ipik di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (9/1/2019).


Menurut Ipik, mereka mengaku juga diceritakan kakek-neneknya soal keindahan jalur kereta Banjar-Pangandaran yang melewati lembah, bukit hingga pantai. Menyimak berkembangnya kabar reaktivasi jalur Banjar-Pangandaran, Ipik sangat antusias.

"Kalau benar-benar jadi reaktivasi ini luar biasa. Turis-turis dari Belanda juga menanti ini," ujar Ipik.

Pemerhati perkeretaapian dari Yayasan Kereta Anak Bangsa Aditya Dwi Laksana merespons positif rencana reaktivasi jalur kereta Banjar-Pangandaran. Menurut Adit, sapaan Aditya, jalur kereta Banjar-Pangandaran ialah salah satu mahakarya di bidang teknik sipil pada waktu itu.


Terbukti hingga hari ini, menurut dia, terowongan Wilhelmina (1,1 Km) menjadi yang terpanjang di Indonesia dan masih berdiri kokoh. Belum lagi jembatan-jembatan panjang yang melintasi lembah-lembah curam, sambung Adit, merupakan pencapaian ilmu pengetahuan pada saat itu.

"Itu adalah jalur fenomenal dengan banyak mahakarya infrastruktur perkeretaapian," kata Adit yang rutin mengunjungi dan turut merawat situs-situs sejarah tersebut.

Berkenaan dengan wacana reaktivasi, Adit mengaku belum mendengar rencana teknis dari pemerintah dan PT KAI, apakah akan menggunakan jalur lama atau menciptakan jalur baru. Sebab, menurut Adit, infrastrukur lama belum tentu sesuai dengan spesifikasi kereta hari ini dan upaya pemugaran pun diprediksi akan sangat mahal.

"Tapi bagaimana pun rencananya, wisata heritage-nya ini harus menjadi perhatian," ucap Adit. (bbn/bbn)