Kaleidoskop 2018

Aib Pendidikan di Garut, Duel Maut Bocah hingga Grup Gay Pelajar

Hakim Ghani - detikNews
Senin, 31 Des 2018 20:58 WIB
Foto: Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna (Hakim Ghani-detikcom)
Garut - Dunia pendidikan di Kabupaten Garut tahun 2018 ini tercoreng lantaran sejumlah kejadian dan fenomena yang terjadi sepanjang tahun.

Tercatat setidaknya ada dua kejadian menghebohkan sepanjang tahun 2018 mencoreng dunia pendidikan di Garut.

Duel Maut Bocah SD Gara-gara Buku Hilang

Sabtu (21/07/3018) menjadi catatan hitam bagi dunia pendidikan di Garut. FNM (12), bocah kelas 6 SD tewas setelah berkelahi dengan teman sebangkunya Hkm (12) gara-gara dituduh menyembunyikan buku.

Peristiwa itu bermula Jumat (20/07/2018), saat jam belajar berlangsung di sekolah mereka yang terletak di kawasan Cikajang. Hkm kala itu mengeluh kepada FNM bahwa salah buku pelajarannya hilang. Kedua bocah itu mencarinya namun tidak ditemukan.

Keesokan harinya, Hkm menemukan bukunya yang hilang berada di kolong bangku FNM. Hkm menuduh FNM menyembunyikan bukunya.

Ketegangan antara keduanya berlanjut hingga ke luar sekolah. Di kawasan Kampung Babakan Cikandang, saat hendak pulang ke rumah keduanya yang terletak di Kampung Cikeris, Desa Cikandang, Cikajang, keduanya cekcok mempermasalahkan buku tersebut. Setelah cekcok keduanya terlibat baku hantam.

Hkm terdesak dalam perkelahian tersebut. Ia kemudian mengeluarkan sebilah gunting yang sebelumnya ia bawa ke sekolah sebagai alat membuat kerajinan.

Polisi menyebut gunting itu dikeluarkan Hkm untuk menakut-nakuti FNM yang terus memukulinya. Namun saat hendak menangkis pukulan FNM, gunting yang dibawa HKM menyayat kepada FNM hingga berdarah.

Beberapa menit perjalanan itu terjadi, seorang warga setempat melerainya dan langsung membawa FNM ke puskesmas. Saat itu kondisi FNM sempat membaik.

Namun pada Minggu (22/07/2018), kondisi FNM kembali memburuk. Ia dibawa orang tuanya ke RS Garut namun nyawanya tak tertolong. FNM meninggal Minggu sore.

Kasus tersebut menjadi heboh setelah foto-foto korban tersebar di media sosial. Polisi kemudian turun tangan. Polisi memeriksa saksi-saksi dan memanggil kedua orang tua korban yang masih merupakan kerabat itu.

Polisi memproses kasus tersebut. Namun berdasarkan hasil kesepakatan, polisi tidak menetapkan Hkm sebagai tersangka. Hkm tidak ditahan.

"Hasil koordinasi dengan Napas, P2TP2A dan keluarga, ada kebijakan agar tidak ditindak lanjuti. Namun kami akan tetap proses karena kami punya ketetapan. Kami akan berikan surat diversi ke pengadilan," ujar Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna kepada wartawan di kantornya, Jalan Sudirman, Karangpawitan, Kamis (26/07/2017).

Kejadian itu menyedot perhatian berbagai kalangan. Mulai dari Pemkab Garut, pemerhati anak hingga anggota dewan di DPR RI. Semenjak kejadian itu, Hkm mengalami trauma dan sempat enggan bersekolah.

Grup Gay Pelajar Garut

Bulan Oktober 2018, warga Garut geger dengan kemunculan grup penyuka sesama jenis yang anggotanya diduga pelajar Garut di Facebook. Meskipun pada akhirnya grup tersebut tak terbukti ada, namun grup Gay itu cukup meresahkan masyarakat.

Kemunculan grup gay pelajar SMP/SMA Garut itu pertama kali ramai diperbincangkan saat sejumlah pengguna Facebook dan Instagram meunggahnya ke akun mereka. Mereka mengaku resah dengan kemunculan grup itu.

Kegaduhan dan keresahan yang timbul di kalangan masyarakat membuat polisi bergerak menyelidiki grup yang pada Senin (08/10/2018) anggotanya tercatat sebanyak 2.500 orang ini.

Penyelidikan polisi berbuah hasil. 4 hari melakukan penyelidikan, polisi menyimpulkan bahwa grup tersebut hoak dan tidak benar.

"Jadi intinya informasi yang beredar di media sosial dan masyarakat adalah hoax. Demikian," ujar Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna saat dihubungi wartawan, Kamis (11/10/2018).

Kesimpulan yang diambil polisi memiliki alasan. Pertama, polisi menemukan adanya kejanggalan dalam grup tersebut karena sebagain besar anggota grup merupakan akun palsu.

Kedua, berdasarkan hasil pemeriksaan saksi, diketahui grup tersebut awalnya merupakan grup agro bisnis. Namun diretas dan dirubah namanya menjadi grup gay pelajar Garut.

Polisi tidak menampik terkait adanya komunitas penyuka sesama jenis yang berkeliaran di Garut. Namun terkait kasus kemunculan grup gay pelajar ini tidak ada.

Meskipun terbukti tidak ada, kemunculan grup gay pelajar di Garut ini menghebohkan masyarakat. Berbagai kalangan melancarkan aksi damai hingga deklarasi anti LGBT saat kasus ini ramai diperbincangkan. (ern/ern)