DetikNews
Kamis 29 November 2018, 20:36 WIB

Tol Air Pagarsih Disebut Tak Sesuai Saran BBWS Citarum

Tri Ispranoto - detikNews
Tol Air Pagarsih Disebut Tak Sesuai Saran BBWS Citarum Pengerjaan Tol Air Pagarsih beberapa waktu lalu/Foto: Tri Ispranoto
Bandung - Di era kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, tol air di aliran Sungai Citepus dibuat sebagai solusi banjir di Jalan Pagarsih. Namun kini banjir pindah ke pemukiman di RW 7, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar tak jauh dari Jalan Pagarsih.

Kabid Pelaksana Jaringan Sumber Air Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Suwarno mengatakan banjir di lokasi tersebut terjadi karena terdapat penyempitan atau bottle neck. Sehingga arus air yang semula besar tertahan dan meluap saat memasuki jalur sempit.

"Citepus, menurut BBWS memang harus dilebarkan sungainya. Karena pas di belokan tempat sampah (TPS) itu dimensinya lebar lima meter, tapi di Jalan Pagarsih hanya 3,5 meter. Nah desain dari BBWS itu kita akan lebarkan ke arah Jalan Pagarsih," ujar Suwarno di Balai Kota Bandung, Kamis (29/11/2018).



Soal tol air, Suwarno mengatakan Pemkot Bandung hanya membuat sebagian dalam bagian terpisah. Hal itu tidak sesuai dengan saran dari BBWS karena kurang efektif hanya berfungsi sebagai penampugan air atau long storage.

"Digedein di situ (tol air), keluar kan kecil. Sehingga air malah balik. Kalau kemarin desain dari kita memang dari atas tempat sampah belokan itu dilebarkan lima meter semuanya. Kalau yang desain kota (Pemkot) kan di tengah jalan," katanya.

Menurut Suwarno konsep pelebaran tersebut tidak akan memakan lahan. Sebab pelebaran akan dibuat di kolong Jalan Pagarsih.

"Waktu awal (sebelum dibuat tol air) sudah disampaikan. Tapi enggak tahu, kelihatannya (pemerintah) punya desain sendiri. Tapi kita sudah sarankan seperti desain kita," ucapnya.

Meski begitu, Suwarno mengatakan BBWS akan fokus pada Sungai Citarum terlebih dahulu. Selanjutnya permasalahan lain seperti di Sungai Citepus akan menjadi prioritas.

"Idealnya ada pelebaran karena kita kan sepeti bottle neck. Sekarang di pagarsih tidak terjadi lagi sampai mobil kebawa air, karena ketika belok ke arah Astananayar terjadi penyempitan.



Sementara itu Kabid Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Tedi Setiadi mengaku pekerjaan tol air memang belum selesai.

"Memang setelah dibuat basement (tol air), harus ada lanjutannya. Sedikit demi sedikit, kita lihat ke depannya," katanya.

Menurutnya pemerintah sudah memiliki konsep untuk pelebaran sungai. Hanya saja itu memerlukan waktu dan biaya yang tidak kecil karena harus memindahkan warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Citepus.



(tro/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed