DetikNews
Jumat 16 November 2018, 13:22 WIB

Kasus Korupsi Tasikmalaya, Polda: Niat Jahat Semua di Sekda

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Kasus Korupsi Tasikmalaya, Polda: Niat Jahat Semua di Sekda Tersangka kasus korupsi dana hibah Pemkab Tasikmalaya. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Bandung - Polisi membongkar kasus dugaan korupsi dana hibah Pemkab Tasikmalaya yang melibatkan Sekretaris Daerah (Sekda) Abdul Kodir. Lalu adakah keterlibatan eks Bupati Tasikmalaya dalam kasus ini?


Abdul bersama beberapa pejabat dan PNS Pemkab Tasikmalaya serta warga sipil diduga korupsi yang merugikan negara senilai Rp 3,9 miliar. Sekadar diketahui, kasus korupsi ini terjadi pada tahun 2017. Saat itu, bupati Tasikmalaya masih dijabat oleh Uu Ruzhanul Ulum yang kini telah menjadi Wakil Gubernur Jabar.

"Saya kira belum ada ke arah sana (ke Uu). Hasil pemeriksaan kita meyakinkan saudara AK (Abdul Kodir) yang menyalahgunakan kewenangan sendiri sebagai penyelenggara pejabat negara," ucap Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jumat (16/11/2018).

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Samudi menambahkan dalam kasus ini mens rea atau ada tidaknya niat jahat semua berasal dari Abdul Kodir. Menurutnya, Sekda membutuhkan dana sehingga melakukan tindak pidana korupsi.

"Mens rea (niat jahat) semua ada di sekda, jadi modusnya begini sekda ini membutuhkan dana, kemudian memanggil Kabag Kesra (Kepala Bagian Kesejahteraan Rakuat) bahwa sedang membutuhkan dana. Kemudian dari Kabag Kesra memanggil ke bawah, stafnya," kata Samudi.


Kita meyakinkan saudara AK yang menyalahgunakan kewenangan sendiri sebagai penyelenggara pejabat negara.Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto

Apakah polisi akan meminta keterangan Uu? "Tidak, tidak. Kita masih fokus koordinasi dengan JPU (jaksa penuntut umum) untuk penyerahan tersangka dan barang bukti," ucap Samudi.

Menurut Samudi, kasus menyeret Abdul cs tanpa melibatkan Uu yang saat itu menjabat bupati Tasikmalaya. Dia menegaskan Abdul bertindak sendiri dari mulai memerintahkan mencari lembaga hingga pencairan dana hibah.

"Tidak ada (instruksi bupati), tidak ada juga link (dari bupati). Ini berjenjang, Sekda menyuruh stafnya, lalu stafnya mencari orang lagi. Nah yang wiraswasta ini yang mencari. Jadi mens rea-nya itu dari Sekda," ujar Samudi.

Proses pencairan itu dilakukan dengan cara lembaga atau yayasan mengajukan proposal. Setelah proposal diajukan ke sekda dan ditanda tangani sendiri oleh sekda, dana tersebut keluar.

"Nah pada saat dana keluar ternyata ini yayasan tidak sepenuhnya menerima. Begitu terima (proposal) langsung potong, langsung potong. Sisanya (uang pemotongan) itu dibagi-bagi," tutur Samudi.


Masing-masing tersangka mendapatkan duit 'bancakan' dana hibah itu mulai Rp 70 juta hingga Rp 1,4 miliar. Abdul Kodir mendapat duit paling besar senilai Rp 1,4 miliar atau 50 persen dari dana hibah yang dianggarkan untuk lembaga.

Polisi sudah menetapkan 9 orang tersangka dalam kasus tersebut. Kesembilan orang tersebut yaitu Sekda Kabupaten Tasikmalaya Abdul Kodir, pejabat Pemkab Tasikmalaya terdiri Kabag Kesra Setda Maman Jamaludin, Sekretaris DPKAD Ade Ruswandi, Inspektorat Kabupaten Tasikmalaya Endin, lalu dua PNS bagian Kesra Pemkab bernama Alam Rahadian Muharam dan Eka Ariansyah, dua warga sipil Lia Sri Mulyani dan Mulyana, serta seorang petani Setiawan.
(dir/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed