Begini Pengakuan Pengunggah Hoax Penculikan di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Sabtu, 03 Nov 2018 17:11 WIB
Sukabumi - Polisi di Sukabumi mencokok pria berinisial N alias E dan seorang perempuan berinisial W terkait unggahan hoax soal penculikan anak yang viral di media sosial Facebook. N ditetapkan tersangka sementara W masih berstatus sebagai saksi.

Keduanya terlihat menundukkan kepala saat polisi menggelar jumpa pers di Ruang Perawatan Khusus, RSUD R Syamsudin SH, Jumat (2/11/2018) malam tadi. W yang mengenakan kerudung merah bahkan menangis sesenggukan saat polisi menyebut ancaman pidana yang akan menjerat pelaku penyebar hoax.

"Saya hanya membagikan ulang informasi yang diposting teman saya," lirih W kepada polisi, sesekali dia menutup wajahnya dengan ujung kerudung yang dia kenakan.



W mengaku tidak memastikan kebenaran informasi yang dia bagikan ulang di beranda pribadi miliknya itu. Menurutnya informasi itu dia bagikan sekedar untuk kewaspadaan saja, namun W terdiam saat polisi menyebut hingga saat ini tidak ada laporan penculikan di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota.

Senada dengan W, N mengaku hanya memposting ulang informasi tentang penculikan yang dia dapat dari rekannya di Facebook. N bahkan mengaku informasi tentang penculikan itu adalah informasi valid yang dia peroleh dari kenalannya.

"Kata teman saya tentang penculikan itu benar," ujarnya.



N yang terlihat menunduk itu juga terdiam ketika polisi mengancam akan menelusuri siapa saja yang terlibat dalam penyebaran informasi bohong tersebut.

"Kamu dari siapa dapatnya, ketika teman kamu itu bilang soal penculikan itu benar hari ini juga kami telusuri. Kalau ternyata bohong dan masih katanya juga ya terpaksa teman kamu juga saya jemput," kata Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo.

"Waspada boleh, tapi tidak dengan menyebar informasi hoax. Mengingatkan juga boleh tapi tidak dengan menyebar kebohongan seolah diyakini sebagai kebenaran karena itu akan meresahkan, kamu tau kan tentang Hoax dan ancaman hukumnya," tegas Susatyo.

Akibat penyebaran informasi hoax itu, polisi menjerat N dengan pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana akibat penyiaran berita atau pemberitahuan bohong.

Selain itu, N diganjar Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana soal pemberitaan palsu yang berlebihan menyebabkan keresahan. Dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

(err/err)