detikNews
Rabu 24 Oktober 2018, 21:23 WIB

Waspada Likuifaksi di Bandung, Ahli Saran Buat Rumah Panggung

Tri Ispranoto - detikNews
Waspada Likuifaksi di Bandung, Ahli Saran Buat Rumah Panggung Wilayah Danau Bandung Purba. (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Bandung - Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI Adrin Tohari mengatakan potensi likuifaksi di Kota Bandung masih sebatas tidak mungkin dan mungkin terjadi. Hal itu diungkapkan Adrin saat menjadi pembicara diskusi 'Potensi Likuifaksi di Wilayah Cekungan Bandung' di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Rabu (24/10/2018).

Dalam pemaparannya, Adrin menyampaikan empat manifestasi likuifaksi yang terdiri semburan pasir (sand boiling), perpindahan lateral (lateral spreading), penurunan tanah (ground settlement) dan aliran tanah (flow movement). "Kalau di Palu kemarin itu manifestasi likuifaksi aliran tanah," ujar Adrin.

Sementara untuk potensi likuifaksi di Cekungan Bandung harus dilihat dari perspektif yang luas. Mulai dari syarat tanah harus mengandung pasir, potensi gempa besar minimal 6 SR, hingga percepatan getaran yang diakibatkan gempa 0,1 g.

Waspada Likuifaksi di Bandung, Ahli Saran Buat Rumah PanggungDiskusi 'Potensi Likuifaksi di Wilayah Cekungan Bandung'. (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Dilihat dari kondisi Cekungan Bandung yang salah satunya adalah Kota Bandung, jenis material tanah yang ada berasal dari endapan danau purba berupa tanah lempung atau batuan tak padat. Hal itu sudah dipastikan melalui penelitian yang dia lakukan belum lama ini.

"Dilihat dari kondisi kegempaan, Sesar Lembang yang panjangnya 29 KM dari Gunung Batu Lembang sampai Cimeta Padalarang itu aktif dan kalau tiba-tiba gempa besarnya 6,8-7 SR. Kemudian gempa itu kecepatannya bisa sampai 0,4 g di batuan dasar dan bisa lebih besar kalau merambat ke tanah," kata Adrin.

Kesimpulannya, menurut Adrin, Kota Bandung masih memiliki potensi likuifaksi. Berdasarkan hasil analisis potensi likuifaksi di Kota Bandung, dia menjelaskan, terdapat tiga daerah yang memiliki indeks terbesar yaitu Rancanumpang (17,67 IL), Sukapura (11,71 IL) dan Cipamokolan (10,34 IL).

"Itu kemungkinan. Jadi bedakan kemungkinan dengan yang pasti, karena ini bentuknya indeks. Yang perlu kita waspadai itu adalah dampaknya (manifestasi likuifaksi) apakah berupa semburan atau penurunan tanah," ucapnya.

Hasil perhitungannya, kemungkinan besar manifestasi likuifaksi yang terjadi ialah penurunan tanah kurang dari 15 sentimeter jika diasumsikan gempa 6,8 SR dan percepatan gempa 0,4g. "Kalau indeks penurunan tanah besar, itu yang perlu kita mitigasi. Kalau kecil, itu resikonya kecil juga," tutur Adrin.

Waspada Likuifaksi di Bandung, Ahli Saran Buat Rumah PanggungAnalisis potensi likuifaksi di Bandung. (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Meski begitu, ia tetap menyarankan langkah antisipasi dilakukan. Sebab dari penelitiannya saat gempa di Padang pada 2009, rata-rata terjadi penurunan tanah akibat likuifaksi sebesar 40 cm.

Ia menyarankan untuk mengantisipasi dampak likuifaksi, warga bisa membangun tempat tinggal mirip rumah panggung. Sebab ketika terjadi likuifaksi, sambung Adrin, akan terjadi semburan air bertekanan tinggi yang dapat merusak lantai.

"Maka kita perlu meninggikan lantai dari permukaan tanah, kalau saya belajar dari Padang (ditinggikan) sekitar setengah meter. Kita beri ruang kosong agar tekanan air lepas ke ruang kosong dan tidak merusak rumah," ujarnya.

Selain itu, menurutnya, fondasi dibuat dengan sistem ikat tidak tertanam di tanah. "Kita lihat di Jepang, fondasi itu di atas tanah, tidak dicor. Seperti rumah panggung, di atas tanah. Bukan di dalam tanah," ucap Adrin.

Waspada Likuifaksi di Bandung, Ahli Saran Buat Rumah PanggungKesimpulan soal likuifaksi di Kota Bandung. (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)

(tro/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed