DetikNews
Senin 15 Oktober 2018, 21:07 WIB

Dicecar soal Duit Suap Abu Bakar, Begini Respons Bupati KBB

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Dicecar soal Duit Suap Abu Bakar, Begini Respons Bupati KBB Bupati Bandung Barat Aa Umbara (batik ungu) dan eks Cawabup Bandung Barat Maman Sunjaya saat sidang kasus suap Abu Bakar. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Bandung - Bupati Kabupaten Bandung Barat (KBB) Aa Umbara memberi kesaksian dalam sidang kasus suap eks Bupati Bandung Barat Abu Bakar. Dalam kesaksiannya, Aa membantah menerima uang dari SKPD termasuk membantah kesaksian PNS Bandung Barat, Caca.

Aa yang menggunakan batik ungu duduk dibangku panjang berdampingan dengan mantan Cawabup Bandung Barat Maman Sunjaya yang juga diperiksa menghadap hakim Fuad Muhamadi di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (15/10/2018) sore hari.

Dalam sidang tersebut, jaksa KPK mencecar pertanyaan kepada Aa seputar aliran uang termasuk mengkonfrontir keterangan saksi sebelumnya Caca yang merupakan PNS yang menjabat bendahara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bandung Barat.

Jaksa KPK Budi Nugraha awalnya bertanya soal jabatan Aa saat Abu Bakar menjadi Bupati. Aa saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD Bandung Barat.


Jaksa lantas bertanya soal kewenangan Aa sebagai ketua DPRD. Jaksa juga bertanya apakah sebagai ketua DPRD, mendapat uang dari eksekutif dalam hal ini Pemkab Bandung Barat. "Sebagai ketua, pernah ada saudara terima berupa uang dari eksekutif? Dari rapat anggaran misalnya?," tanya jaksa.

Aa hanya menjawab singkat. "Tidak pernah," kata Aa.

Jaksa juga bertanya soal adanya permintaan uang dari Aa kepada eksekutif. Lagi-lagi, Aa mengaku tak pernah berbuat seperti itu.

Jaksa lantas bertanya soal para pegawai Aa, termasuk sopir Aa yang bernama Aep. Dalam kesaksian sebelumnya, Caca menyebut memberikan sejumlah uang kepada Aep.

"Bapak punya sopir pribadi? Siapa namanya?," tanya jaksa.

"Iya punya, Aep," kata Aa.


Jaksa juga menanyakan soal rumah Aa di Lembang, pernah ke Hotel Topas di Pasteur dan ajudan Aa bernama Yadi. Saat ditanyakan, Aa menjawab benar atas semua pertanyaan jaksa.

Jaksa lalu menampilkan layar yang isinya berupa catatan tangan. Gambar itu juga sempat dibuka jaksa saat memeriksa kesaksian Caca. "Ada catatan namanya bancakan SKPD. Di catatan ini, ada penyerahan uang 100 juta (rupiah) ke ketua di rumah Lembang, 20 juta (rupiah) sopir di Kota Baru, 75 juta (rupiah) ajudan di Topas (hotel), 25 juta (rupiah) ajudan rumah Lembang juga tertulis 35 juta (rupiah) Aep. Total ada 255 juta rupiah," kata jaksa.

Jaksa kemudian menanyakan lagi kepada Caca yang masih duduk di bangku tepat belakang Aa. Jaksa menanyakan apakah Caca pernah memberikan uang kepada Aa atas perintah Weti Lembanawati, kala itu menjabat Kadisperindag Bandung Barat.

Sesuai kesaksian sebelumnya, Caca membenarkan apa yang ditanyakan oleh jaksa. "Iya betul," kata Caca.

Jaksa juga menanyakan kepada Caca apakah dirinya pernah mengontak Aa terkait pemberian uang tersebut. Caca membenarkan hal tersebut, bahkan mengaku masih menyimpan nomor telepon Aa di ponsel yang kini disita KPK.

"Betul saudara menelepon berkaitan dengan penyerahan uang? Ke sopir dan ajudan?," tanya jaksa.

"Iya pak betul," kata Caca menjawab.

Usai bertanya soal hal itu, jaksa kemudian meminta tanggapan dari Aa atas pengakuan Caca. Aa menangkis pengakuan Caca.

"Tidak benar," kata Aa.

Hakim sempat menskors sidang karena bertepatan dengan waktu maghrib. Setelah itu, sidang dilanjutkan kembali

Giliran hakim mencecar sejumlah pertanyaan kepada Aa. Hakim mempertanyakan berdasarkan BAP terhadap Caca. Menurut hakim, dalam BAP, Caca menyebutkan menerima uang dari sejumlah SKPD dengan nominal beragam dari terendah Rp 5 juta hingga tertinggi Rp 18 juta.

Penyaluran uang itu dilakukan secara bertahap dan diserahkan kepada ajudan dan sopir Aa. Pertanyaan dari hakim tersebut dibantah Aa. Dia menyebutkan tak pernah menerima uang yang dikirimkan kepada ajudan dan sopirnya. Padahal berdasarkan pengakuan Caca, yang tercatat dalam BAP, uang tersebut dikirimkan ke ajudan dan sopir atas permintaan Aa saat dihubungi oleh Caca melalui telepon.

"Tidak yang mulia," ucap Aa menjawab setiap pertanyaan hakim.

Caca yang masih berada di ruang sidang, lantas dikonfrontir. Pertanyaan sama diberikan hakim dan dijawab dengan jawaban berbeda dengan Aa. "Benar yang mulia," kata Caca menjawab setiap pertanyaan hakim.

"Itu yang tercatat di berita acara. Terserah kalau saudara (Aa Umbara) tidak mengaku, tapi yang memberi merasa," kata hakim melanjutkan.

Beda pendapat ini membuat hakim meminta jaksa untuk menghadirkan Aep dan ajudan Aa waktu 2015 bernama Yadi untuk dimintai keterangan dan dikonfrontir dengan Caca.

"Kalau perlu, saudara Aep dijadikan saksi, dipertemukan dengan Caca ya," kata hakim

"Baik yang mulia," ucap jaksa menimpali.
(dir/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed