DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 17:35 WIB

Kata Bappelitbang Soal Likuifaksi di Bandung Beda Dengan LIPI

Tri Ispranoto - detikNews
Kata Bappelitbang Soal Likuifaksi di Bandung Beda Dengan LIPI Foto: Tri Ispranoto
Bandung - Kepala Bappelitbang Kota Bandung Heri Antasari menjawab perbedaan hasil penelitian dengan LIPI soal 10 kecamatan di Kota Bandung berpotensi terjadi likuifaksi seperti di Palu, Sulteng.

Menurut Heri dua penelitian terebut sama-sama positif. Hanya saja rentan waktu penelitian yang dilakukan Bappelitbang dan LIPI terlampau jauh. Bappelitbang melakukan penelitian tahun 1992-2000, sementara LIPI tahun 2015-2017.

"Kemarin juga Pak Andry (Kasubbid 1 PIPW Bappelitbang Kota Bandung Andry Heru Santoso) menyampaikan penelitian itu harus diperbaharui. Namanya penelitian itu tidak ada yang benar dan salah," ujar Heri kepada detikcom via telepon, Jumat (12/10/2018).

Heri mengatakan semua hasil penelitian positif akan menjadi data dan informasi tambahan untuk Pemkot Bandung sebagai landasan mengambil kebijakan.

"Khususnya soal bencana ini harus ada kewaspadaan, tindakan lebih lanjut sebagai informasi positif dari para ahli," katanya.



Ia mencontohkan dulu para peneliti sempat berbeda pendapat soal Sesar Lembang. Sejumlah peneliti menyebut sesar tersebut aktif, sementara lainnya menyebut tidak aktif. "Tapi kan sekarang semua sama, Sesar Lembang itu aktif," ujarnya.

Soal bencana, kata Heri, semua informasi dan data akan selalu menjadi pertimbangan agar pemerintah semakin waspada dalam mengambil tindakan dan kebijakan untuk kepentingan warga yang lebih luas.

"Untuk itu kita dalam waktu dekat pasti akan melakukan kajian lebih lanjut soal ini (potensi likuifaksi) dengan melibatkan tenaga ahli," ujar Heri.

Sementara itu Kasubbid 1 PIPW Bappelitbang Kota Bandung Andry Heru Santoso mengatakan hasil penelitian pada tahun 1992 hingga tahun 2000 oleh Bappeda (kini Bappelitbang) bekerja sama dengan Geodesy Research Group, Institute Technology Bandung & International Decade for Natural Disaster Reduction mendapatkan hasil 10 kecamatan di Kota Bandung berpotensi mengalami likuifaksi.

Menurut Andry penelitian tersebut sudah lama sekali dilakukan. Sehingga perlu ada penelitian ulang untuk mengetahui secara pasti kondisi atau potensi likuifaksi di Kota Bandung yang terbaru.

"Maka nanti bisa dilihat apakah memang tidak ada (potensi), atau ada pengurangan atau penambahan (kecamatan). Itu kan baru potensi saja," katanya.



Dari hasil penelitian terdahulu terdapat 10 kecamatan yang berpotensi mengalami likuifaksi. Kecamatan tersebut adalah Kiaracondong, Antapani, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong dan Bandung Kidul.

Sementara itu Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI Adrin Tohari memastikan Cekungan Bandung tidak berpotensi likuifaksi seperti yang terjadi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. Hal itu dipastikan dalam penelitian yang dilakukannya pada tahun 2015-2017 lalu.

"Saya sudah melakukan penyelidikan sampai kedalaman 90 meter, hasilnya tanah didominasi lempung. Potensi likuifaksi itu bisa terlihat di kedalaman 15 meter, tapi itu juga didominasi tanah lempung," ujar Adrin kepada detikcom via telepon, Jumat (12/10/2018).

Secara teori, kata Adrin, likuifaksi terjadi karena tanah didominasi oleh butiran pasir halus. Sementara tanah lempung tidak memiliki potensi terjadinya likuifaksi. "Jadi karena kondisi tanah lempung, tidak ada potensi. Apalagi kalau dihubungkan dengan tanah bergerak di Palu. Menurut saya tidak sesuai dengan teori," ucapnya.


Saksikan juga video 'Tim ESDM Imbau Daerah Likuifaksi Jangan Dihuni Lagi':

[Gambas:Video 20detik]


(tro/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed