Sewaktu bencana terjadi, Sulaeman patah tulang tungkai kaki kiri akibat tertimpa bangunan. Bahkan dia berhari-hari berpisah dengan istri dan anaknya.
Lelaki tersebut berangkat transmigrasi sejak 2011 untuk bertani kopi di kawasan Kabupaten Sigi, Sulteng. Setelah menetap selama delapan tahun, dia sekolahkan kedua anaknya di wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sempat tanami kakau coklat, tapi gagal. Di sana (Sigi) cocoknya kopi" kata Sulaeman di RSUD Dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya, Jabar, Senin (8/10/2018)
Saat gempa melanda Sulteng, bapak dua anak ini tengah salat di Masjid Annur. Dia panik sehingga terjatuh dari tangga lantai dua. Akibatnya tungkai kaki kiri Sulaeman patah.
"Saya coba ambil sepatu, malah jatuh karena besi pegangan tangga masjid bergoyang" ujar Sulaeman.
Dia harus berjalan meski kaki patah sejauh hampir sepuluh kilometer untuk mencapai pengungsian. Waktu itu Sulaeman berpisah dengan istri dan anaknya selama tiga hingga enam hari lamanya. Lalu dia bersikeras membawa pulang keluarganya.
Sulaeman berkumpul dengan anak-istri hingga dievakuasi menggunakan pesawat Hercules menuju pulau Jawa. "Alhamdulillah anak anak saya ditemukan dan istri juga selamat. Akhirnya saya dibantu pulang ke Tasikmalaya kemarin," ujar Sulaeman.
Kini Sulaeman dirawat di RSUD Dr Soekardjo. Selain membengkak, bagian kakinya yang patah itu sudah menghitam.
"Diagnosanya patah tulang tungkai kaki. Kita berusaha pulihkan," ucap Kabid Pelayanan RSUD Dr Soekardjo Budi Tirmadi saat menjenguk Sulaeman.
Pihak rumah sakit memastikan akan membantu Sulaeman hingga pulih. Budi menjelaskan pihaknya berkoordinasi dengan Pemkot Tasikmalaya agar pembiayaan selama dirawat digratiskan.
"Kita usahakan bantu gratis pembiayaan pengobatan korban gempa ini," kata Budi.
Simak Juga 'Tangis Relawan PMI Bertemu Orang Tua yang jadi Korban Gempa':
(bbn/bbn)











































