"Sambil menunggu hasil visum dan laboratorium, kasusnya masih terus kami selidiki," kata Kapolres Karawang AKBP Slamet Waloya saat dikonfirmasi via telepon Minggu (30/9/2018).
Anak baru gede (ABG) tersebut mengeluh sakit di bagian kemaluannya dua hari usai ditemukan dalam kondisi mabuk bersama dua remaja pria di tempat pembuangan sampah sementara atau TPS di Cikelor. Namun, untuk memastikan penyebab sakitnya, hasil visum dan pemeriksaan laboratorium akan sangat membantu polisi dalam penyelidikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, polisi juga membantah petugas di Polsek Rengasdengklok menerima suap dan melepas dua remaja pria yang mencekoki siswi tersebut. Menurut Slamet, justru keluarga ABG itu tidak memberikan keterangan adanya perkosaan kepada petugas.
"Pada saat itu, dari keluarga wanita yang ditolong dan dibawa oleh petugas ke rumah sakit dan sama sekali tidak memberikan keterangan adanya pemerkosaan kepada petugas," kata Slamet.
"Justru keluarga wanita tersebut adalah salah satu pihak yang meminta agar semuanya (kedua pemuda) bisa pulang dan masalah selesai," Slamet menambahkan.
Hal itu diperkuat oleh keterangan Enin Saputra, kakek korban. "Anak saya melaporkan kasus itu ke Polsek Rengasdengklok. Laporannya kasus kenakalan remaja karena cucu saya dicekoki," tutur Enin.
Namun, dua pria oknum ormas di Rengasdengklok malah memanfaatkan situasi. Enin bercerita, kedua oknum itu mengaku sebagai mediator polisi dan meminta uang pelicin supaya laporan korban ditindaklanjuti.
Modus tipu-tipu oknum itu ketahuan saat petugas Polsek Rengasdengklok menolak uang suap tersebut. Alhasil oknum ormas itu mengembalikan uang itu ke ayah korban pada Sabtu petang (29/9). "Polisi menolak uang ini. Ribet lah," kata Enin menirukan ucapan oknum tersebut.
"Oknum ormas langsung masukin uang ke saku anak saya. Dia bilang Polisi menolak. Sepertinya anak saya tertipu," Enin kembali menjelaskan.
Tonton juga 'Bocah 1,5 Tahun di Karawang Tewas Diduga Jadi Korban Pencabulan':
(bbn/bbn)











































