DetikNews
Rabu 15 Agustus 2018, 11:53 WIB

Cerita Patriotik Suami-Istri Pejuang Kemerdekaan Lawan Penjajah

Rachmadi Rasyad - detikNews
Cerita Patriotik Suami-Istri Pejuang Kemerdekaan Lawan Penjajah Sepasang suami istri saksi sejarah kemerdekaan Indoneisa (Foto: Rachmadi Rasyad)
Cimahi - Senyum merekah di wajah Ening Ningsih (88). Mak Ningsih sapaannya menunggu dan meyambut hangat di depan pintu saat detikcom menyambangi kediamannya di Komplek KCVRI Nomor 48, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi beberapa waktu lalu. Sang suami Endang Amir Husain (97) tampak menunggu di kursi tamu.

Usai menyapa dan mempersilahkan tamunya masuk rumah, Mak Ningsih duduk bersebelahan dengan Aki Amir sapaan Endang Amir Husain. Aki Amir kala itu sedang menggunakan pakaian batik berwarna hitam-cokelat dan bersarung. Bagian dadanya tersemat tulisan 'Legiun Veteran Republik Indonesia'. Ia juga mengenakan topi krem khas veteran

Kaki Aki Amir terdapat luka yang masih berbekas berwarna hitam akbat terkena Bayonet (senjata yang digunakan Belanda seperti belati) ketika menjadi tawanan. Telinganya juga tak lagi berfungsi dengan baik sebab terkena hantaman popor senapan saat penjajahan Belanda.

"Luka itu mah pas waktu 1947 kan ditawan. Jadi dapatnya di Sukaraja, Tasikmalaya sama Belanda. Belanda itu kan curiga dengan orang Tasikmalaya yang suka jualan minyak, samak, ditawan juga. Teman dekatnya bapak juga meninggal. Tapi yang menyiksa bukan Belanda, masih bangsa kita yang jadi pengkhianat. Bapak untungnya gak apa-apa padahal tahanan politik," tutur Mak Ningsih mengenang kisah suaminya Aki Amir.

Di usianya yang senja, Aki Amir menderita penyakit prostat sehingga di tempatnya duduk terdapat selang yang berasal dari balik sarung hingga ember. Selain terkena penyakit prostat, pendengaran dan penglihatannya berkurang. Berbeda dengan Aki Amir, Mak Ningsih justru masih tampak sehat. Ia mengaku, tidak pernah mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter.

"Dari jamu-jamu itu. Gak pernah makan obat dari dokter. Emak sudah umur 88 masih bisa jalan, masih bisa baca, ini masih normal. Mata juga masih bisa dipakai baca Al-Quran. Cuma ini bapak kasihan. Mungkin sama Allah dipindahkan," katanya sambil memandang pada Aki Amir dan memegang tangannya dengan erat.

Potret Aki Amir veteran perang (Foto: Rachmadi Rasyad)


Mak Ningsih mulai menceritakan sepenggal sejarah perjuangannya bersama suami saat meraih kemerdekaan Indonesia. Ia menuturkann pada tahun 1940 sudah pindah ke Kota Bandung, meski baru berusia 10 tahun kala itu. Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, ia dipaksa oleh tentara untuk bergabung dengan Fujinkai, sementara Aki Amir bergabung dengan Seinendan.

"Emak mah kelahiran 1930 dari kampung, sekarang mah daerah Cirata. Kemudian, tahun 1940 ke Bandung. Terus 1942 Jepang masuk kan? Jadi bapak di Desa Pasir Kaliki kalau emak di Desa Arjuna, terus pas dijajah sama Dai Nipon (Jepang) itu diambil pemuda dan pemudi. Bapak Seinendan, emak Fujinkai," ungkap dia.

Selama berada di Bandung ia terpaksa bekerja di usia yang masih sangat muda untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pada tahun 1944, ketika berumur 15 tahun, ia bekerja di dapur umum untuk memenuhi kebutuhan para tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR), terutama memasak nasi yang terletak di Cibadak (sekarang jadi Rumah Sakit Paru-Paru).

"Abis gimana lagi dijajah sama Dai Nipon itu kan beras juga diukur atau diatur adanya di RT. Jadi, tahun 1943 itu mulai pisah (dengan keluarga), lalu 1944 meninggal bapak jadi terpaksa kerja. Pas emak kan udah 15 tahun disuruh masak nasi oleh tentara BKR itu tapi Belanda kan terus-terusan (mendesak). Sekolah Kesatriaan itu mau dibakar. Dari Kesatriaan itu sampai ke Cibadak di sana bikin dapur umum," ungkap dia mengenang kesulitan di masa itu.

Singkat cerita, Mak Ningsih ingat betul peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tahun 1946. Ia kala itu ikut serta mengungsi menuju ke markas bernama Pintu Hideung yang terletak di Cicalengka dengan membawa pakaian seadanya. Di sana, Belanda kembali menyerbu hingga mendesak pasukan ke Ciamis. Selama berjalan kaki ke Ciamis, banyak pengungsi yang tewas.

"Dari Tegalega itu terus saja sampai ke Soreang, Anjarsari, lalu Bandung dibakar. Bandung Lautan Api. Ga bawa apa-apa dari rumah juga cuman bawa baju seadanya. Emak kan udah ga masak nasi lagi, wah pokoknya kocar-kacir. Sampe di Cicalengka, baru ada markasnya. Banyak juga yang meninggal di sana. Mau bagaimana lagi? Kita hanya pakai bambu runcing sementara Belanda kan pakai senjata. Jadi banyak yang meninggal di sana. Terus aja maju Belanda sampai Cicalengka juga dapat sampai ke Garut, sampai ke Tasikmalaya dan Ciamis," tuturnya mengisahkan peristiwa bersejarah itu

Pada tahun 1947 mengungsi di Tasikmalaya, ia menjual singkong untuk memenuhi kebutuhannya. di Tasikmalaya, ia pertama kali bertemu dengan Aki Amir yang kala itu sedang mengawal Presiden Soekarno. Saat itu, sambung dia, Aki Amir berpangkat kopral yang berada di bawah komando Kolonel Kaprawi. Usai bertemu, mereka menikah pada tahun 1949 di Bandung.

"Tapi, emak di Tasikmalaya, ini (bapak) di Ciamis. Ya ketemunya itu di sana buat jodoh sampai sekarang ini. Emak jualan singkong, bapak ngawal Bung Karno dari Ciamis ke Tasikmalaya. Sesudah itu, diambil sebulan dua bulan ke Ciamis. Disewakan rumah sama bapak di Ciamis. Terus suka datang menengok. Tapi kan di Ciamis itu agamanya kan kuat. Terus ditanya sama ajengan di sana, mesti kawin, disyahadatkan. Tahun 1949 menikah di Bandung," katanya sambil tersenyum.

Aki Amir, kata Mak Ningsih, yang sebelumnya berpangkat kopral ketika masih bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR), kini berpangkat Letnan Dua (Letda) sejak jadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Aki Amir memperoleh banyak penghargaan berupa Bintang Gerilya, Bintang 45, hingga Gong 1, 2, dan 3 Gerakan Militer.

"BKR, TKR, dan ketika TRI bapak sudah diperiksa kesehatannya sudah 60%. Bintang Gerilya itu ada, Bintang 45 ada, Gong 1, 2, dan 3 Gerakan Militer ada, selalu mengikuti. Sesudah diangkat TRI kekuatannya sudah 60%. Sekarang menerima pensiun dari Letda," ucap dia.

Mak Ningsih besyukur atas perhatian pemerintah selama ini. Rumah yang ditempatinya sekarang merupakan pemberian dari pemerintah. Adapun untuk biaya kesehatannya sehari-hari, ia menggunakan Askes. Selain rumah, ia juga memperoleh tunjangan veteran dari Presiden Jokowi yang diterimanya setiap bulan.

"Alhamdulillah, tapi sekarang sudah dikasih pensiun dan dikasih rumah. Biaya kesehatan pakai Askes saja. Ya perhatian pemerintah, dikasih pensiunan juga sudah cukup. Kalau sekarang dari Pak Jokowi itu tunjangan veteran Rp 700.000 ditambah pangkat Letda itu Rp 2.400.000 dalam sebulan jadi kan sekitar Rp 3000.000," kata dia.

Ia mengaku tidak pernah mengajukan tunjangan pada pemerintah. Baginya, perjuangan memerdekakan Indonesia dijalaninya dengan sepenuh hati dan keikhlasan. Ia tidak pernah berharap menerima imbalan apapun.

"Kalau yang lain mah masuk setahun setengah mengajukan minta tunjangan. Kalau bapak mah tidak. Itu mah keikhlasan untuk nusa dan bangsa. Ikhlas saja. Padahal bapak ada buktinya, ini badannya rusak. Jadi perjuangannya begitu semangat tidak mau dijajah oleh siapa pun," tegas dia

Ketika disinggung mengenai kondisi bangsa Indonesia saat ini, Mak Ningsih mewakili suaminya, mengatakan bahwa kondisinya sedang kacau. Cita-cita bangsa yang sebelumnya diperjuangkan oleh Presiden Soekarno nyaris hilang."Jadi kacau. Memang agak sulit memikirkannya. Perjuangannya Bung Karno itu hampir hilang tapi itu pandangan pribadi emak saja," katanya.
(mud/mud)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed