DetikNews
Selasa 14 Agustus 2018, 21:48 WIB

Interaksi Tanpa Batas Sang Pendamping Disabilitas

Baban Gandapurnama - detikNews
Interaksi Tanpa Batas Sang Pendamping Disabilitas Penyandang disabilitas tunanetra di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna Bandung. (Foto: Mochamad Solehudin/detikcom)
Bandung - Pituah Hapederik Pardosi menyeruput kopi hitam dalam gelas plastik. Siang itu, Rabu 8 Agustus 2018, dia membicarakan mendiang Stephen Hawking, sosok difabel sekaligus ilmuwan brilian asal Inggris.

"Stephen Hawking itu jenius," ucap Pituah saat ditemui Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat.

Hawking memiliki keterbatasan fisik. Ahli fisika teoritis itu banyak melakoni aktivitasnya sambil duduk di kursi roda listrik. Dia memiliki perangkat khusus untuk berkomunikasi dengan orang lain. Alat ini digerakkan oleh sensor otot pipi yang secara menakjubkan memungkinkan Hawking berbicara, menulis dan mengoperasikan komputer tablet yang terpasang di kursi rodanya.

Stephen HawkingStephen Hawking (Foto: Reuters)
Sejak usia 21 tahun, tokoh dunia tersebut didera penyakit langka amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yaitu penyakit menyerang saraf motorik dan tulang belakang. Akibatnya fisikawan tersebut lumpuh total dan kehilangan kemampuan bicara.

Hawking meninggal saat usia 76 tahun pada Rabu 14 Maret 2018. Hawking dikenal dengan teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking.

"Dia (Hawking) bapaknya ilmu modern. Meski enggak bergerak, hanya duduk saja, dia memiliki teori hebat soal asal usul waktu," ujar Pituah melanjutkan obrolan.

Pituah ialah pendamping difabel di Kota Bandung. Cerita singkat sosok Hawking yang diutarakan Pituah bukan tanpa maksud. Dia ingin menyampaikan sebuah gambaran nyata bahwa penyandang disabilitas sanggup berkarya. Sekaligus mengubah pandangan stereotip masyarakat terhadap difabel.

"Tapi faktanya, ada saja masyarakat masih berpikir klasik. Disabilitas dianggap sebagai kelompok dikasihani dan berkekurangan, dan serba tidak bisa. Stigma kepada disabilitas mestinya enggak relevan lagi di kehidupan modern saat ini," tutur Pituah.


Disabilitas dan Pendamping


Tiupan sendalu sepoi-sepoi nan segar siang itu menerpa area PSBN Wyata Guna. Terdengar suara riuh rendah para difabel netra yang bersekolah di panti ini selagi acara Agustusan menyambut HUT Ke-73 Republik Indonesia.

"Lagi ada lomba. Ada lomba tenis meja, bola voli, catur dan lainnya," kata Humas PSBN Wyata Guna, Suhendar.

Panti ini jaraknya sekitar tiga kilometer dari Bandara Husein Sastranegara dan 1,5 kilometer dari Stasiun Kereta Api Bandung.

Saban hari peserta didik tingkat SD hingga SMA menempuh pendidikan formal dan nonformal di panti tunanetra terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1901.

Miptahul Hadi (15), salah satu siswa SMP di panti tersebut, mengakui peran pendamping sangat membantu aktivitasnya. "Adanya pendamping, saya bisa lebih banyak belajar segala hal dan membuat saya mandiri," kata Miptahul.

Remaja lelaki kelahiran Cianjur 10 Januari 2003 ini berprestasi di bidang olahraga renang. Miptahul menyabet dua emas saat gelaran Pekan Paralympic Pelajar Daerah (Peparpeda) Jabar 2018.

"Waktu itu juara satu renang untuk kategori lomba 50 meter dan 100 meter gaya dada," ucapnya tersenyum bangga.

Interaksi Tanpa Batas Sang Pendamping DisabilitasTunanetra di Wyata Guna Bandung lomba tenis meja. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)
Dia menyebut torehan kemenangan itu ada keterlibatan sang pendamping. Miptahul tak mungkin tahu karakter arena tanding tanpa arahan pendamping. Begitu pun selagi ia latihan renang.

"Pendamping itu menjelaskan kondisi tempat renang. Misalnya posisi kolam renang, jaraknya, dalamnya kolam dan lainnya," kata Miptahul yang bercita-cita jadi dosen.

Senada diungkapkan Riza Kurnia, pelajar SMA Wyata Guna. Disabilitas netra ini berkisah soal interaksi sosial dengan sukarelawan pendamping.

"Saya sangat terbantu adanya pendamping. Misalnya kalau ada ujian pelajaran, pendamping membantu membacakan soal," kata Riza berbalut kemeja.


Inspirasi-Kemandirian Difabel

Selama ini Pituah selalu menyemangati kalangan disabilitas netra untuk memiliki kepercayaan diri. Poin utamanya bahwa mereka punya hak sama dengan warga negara lainnya. Hal itu sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Lelaki berusia 31 tahun ini mulai terjun menjadi sukarelawan pendamping difabel sekitar tahun 2008. Terutama untuk pendampingan tunanetra.

"Pendamping itu ada karena ada kaum disabilitas yang memperjuangkan haknya," ucap Pituah.

Berbicara pendidikan anak untuk disabilitas, hak-hak mereka masuk dalam peraturan tersebut. Anak-anak difabel berhak menempuh sekolah tingkat dasar dan menengah di satuan pendidikan khusus atau Sekolah Luar Biasa (SLB) dan pendidikan reguler berkonsep inklusif.

Pada 2016, berdasarkan catatan Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik, ada 4,6 juta anak di Indonesia tidak sekolah, yang satu juta di antaranya ialah anak berkebutuhan khusus. Sementara data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan 62 daerah dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia tidak memiliki SLB.

Interaksi Tanpa Batas Sang Pendamping DisabilitasPituah Hapederik Pardosi yang selama ini aktif sebagai pendamping difabel. (Foto: dokumentasi Pituah)
Selain peran para guru di satuan pendidikan, masyarakat turut andil membantu tumbuh kembang anak-anak disabilitas. Pituah mengaku banyak memperoleh pelajaran hidup saat berinteraksi verbal secara langsung dengan anak-anak penghuni PSBN Wyata Guna.

Bukan hanya datang saat difabel menghadapi tugas sekolah atau antar-jemput ke tempat tujuan, bagi Pituah mendampingi mereka dalam kehidupan sehari-hari telah menginspirasinya.

"Justru selama ini saya banyak mendapat inspirasi dan motivasi dari disabilitas. Mereka bertahan dan hidup melawan stigma yang enggak ada tepinya," kata Pituah.

Pituah memposisikan diri sebagai sahabat saat berkomunikasi dengan difabel sehingga muncul interaksi tanpa batas. Obrolannya tak melulu hal-hal serius. "Ya kita bahas soal keseharian. Kalau sudah ngobrol, ya saling bercanda. Sampai segitunya, jadi tak ada lagi sekat," ujarnya.

Pituah mendorong agar satuan pendidikan mempersiapkan anak-anak disabilitas untuk menyongsong jenjang berikutnya usai merasakan bangku sekolah. "Harus mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan nyata. Jadi saat disabilitas memasuki masa pendidikan, ada juga tempat untuk pasca pendidikan," ucap Pituah.

"Pendidikan untuk disabilitas idealnya mempersiapkan dunia kerja. Lalu melatih disabilitas untuk mandiri. Misalnya wirausaha. Kan sekarang bisa jualan via online," tuturnya.

Pituah meyakini disabilitas memiliki potensi dalam segala bidang. Dia kerap mengajak difabel untuk menekuni dan melakoni kegiatan usaha secara mandiri.

"Jadilah tuan atas dirinya," ucapnya sambil menenteng tas punggung.

Selain itu, sambung dia, komunitas peduli disabilitas harus bisa berkontribusi nyata. Begitu pun para alumni yang pernah mengarungi pendidikan khusus dan inklusif.

"Berbagilah wawasan dan skill, serta berbagi peluang kepada disabilitas lainnya," kata Pituah menutup perbincangan.



Tonton juga video: 'Begini Cara Komunikasi yang Baik dengan Penyandang Disabilitas'

[Gambas:Video 20detik]


(bbn/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed