Dalam aksi bertajuk 'Dunia Islam Berduka: Al Aqsa Terbelah dan Bumi 1.000 Masjid yang Terguncang (Lombok)', massa menggelar aksi long march dari Masjid Pusdai Bandung menuju Gedung Sate.
Massa aksi bela Palestina ini terdiri dari berbagai lembaga dan elemen masyarakat. Mereka mendengarkan orasi sejumlah tokoh setiba di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (3/8/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edwin dalam orasinya mengatakan persoalan Palestina merupakan tanggung jawab umat muslim sedunia, termasuk Indonesia. "Palestina adalah satu-satunya negara Konferensi Asia Afrika (KAA) yang hingga hari ini masih dijajah. Karena itu sesuai dengan ruh konstitusi kita, maka segala bentuk penjajahan di dunia harus dihapuskan, termasuk Palestina harus merdeka dari penjajah Israel," tutur Edwin usai berorasi di depan BIP.
Terkait penguasaan dan penutupan Masjid Al Aqsa oleh penjajah Israel, Edwin mengungkapkan kondisi ini menyangkut harga diri dan martabat kaum muslim seluruh dunia.
"Kami mengajak kepada kaum muslimin agar perjuangan membela dan sekaligus memerdekakan Palestina termasuk Masjid Al Aqsa tidak hanya dengan aksi saja," kata Edwin.
Sementara itu, Ustaz Rahmat Baequni dalam orasinya kepada Pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam upaya perjuangan pembebasan rakyat Palestina dari penjajahan Israel. Indonesia memiliki kekuatan besar memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Pemerintah harus memberikan dukungan nyatanya terhadap kemerdekaan negara-negara Timur Tengah seperti Suriah dan lainnya yang kini tengah dizalimi," ucap Baequni usai berorasi di depan BIP.
Selain memperjuangkan kemerdekaan Palestina, para tokoh lembaga-lembaga Islam dan tokoh masyarakat mengajak masyarakat Bandung untuk peduli terhadap musibah gempa yang melanda Lombok pada Minggu (29/7). (mud/bbn)










































