DetikNews
Kamis 26 Juli 2018, 09:49 WIB

Kritik Film Itu Berat, Hal Ini yang Harus Diperhatikan

Mukhlis Dinillah - detikNews
Kritik Film Itu Berat, Hal Ini yang Harus Diperhatikan Foto: Mukhlis Dinillah
Bandung - Mengkritik sebuah karya film bukan perkara mudah. Butuh keseriusan dan kejelian. Seorang kritikus harus memahami betul alur cerita hingga esensi dari film tersebut. Kritik juga harus bersifat objektif dengan memperhatikan berbagai pendekatan.

Kritikus film Ang Jasman mengaku ada banyak komponen yang perlu dipelajari untuk bisa mengkritik sebuah karya film. Sebagai langkah awal, kritikus harus kesesuaian antara genre, judul, sumber cerita, orang-orang yang terlibat dan poster film.

Setelah itu, kata Jasman, kritikus bisa menganalisa cerita yang digambarkan dalam film tersebut. Kritikus harus jeli melihat semua komponen yang ada dalam cerita tersebut, baik itu kelebihan atau kekurangannya.

"Tentu dalam menganalisa skenario (cerita) film ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti plot, karakter, efek emosional dan ide," jelas Jasman saat menyampaikan materi dalam Semiloka Penulisan Kritik Film di Swissbel Hotel, Jalan Otista, Kota Bandung, Kamis (26/7/2018).

Tentunya untuk menguliti sebuah film, kritikus juga harus melihat lebih dalam cerita yang ditampilkan. Misalnya plotnya pada satu sama lain, masuk akal dan menarik untuk diikuti hingga film selesai.

"Tentunya yang menjadi sorotan dalam sebuah cerita itu konflik yang dihadirkan. Kritikus bisa melihat sejauh mana konflik ini berkembang dan membuat cerita ini menarik," ungkap dia.

"Terlepas dari itu kritikus juga harus memperhatikan faktor waktu, kondisi sosial, adat dan kebiasaan, editing, musik, dan efek suara," ujarnya menambahkan.

Dosen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Tommy F Awuy mengatakan dalam pendekatan filsafat, sebuah film merupakan ketepatan. Artinya, alur cerita harus sesuai adegan yang digambarkan dalam film.

"Ketika berbicara menggunakan pendekatan filsafat, maka itu sebuah ketepatan atau matematis. Harus linier antara adegan satu dengan lainnya," kata Tommy dalam pemaparannya.

Ia mencontohan pemutaran film Hujan Bulan Juni yang kurang mendapat sambutan baik di Manado. Warga Manado yang menonton kala itu mempertanyakan sejumlah scene yang tidak sesuai dengan dialog pemeran utama film tersebut.

Menurutnya warga Manado melihat ada yang janggal dalam film yang diadaptasi dari novel dengan judu yang sama 'Hujan Bulan Juni', karya penulis puisi dan sastrawan Sapardi Djoko Damono tersebut. Apalagi scene yang digambarkan berlatar Manado.

"Harusnya di satu adegan ada dialog yuk kita ke sana. Kemudian nyatanya adegan itu tidak mengarah ke tempat itu (sesuai dialog awal). Mereka mempertanyakan itu. Orang Manado melihatnya dari kacamata filsafat, melihatnya harus linier (adegan satu dengan lainnya), karena logikanya seperti itu," ungkap dia.

Pendekatan psikologis juga bisa menjadi penilaian sebuah film. Misalnya kritikus bisa memperhatikan gerak-gerik penonton yang ada di bioskop ketika menyaksikan film tersebut.

"Menilai film terkadang dari gestur orang yang nonton juga. Misalnya lima menit awal sudah ada gerakan-gerakan seperti orang gelisah berarti itu ada yang janggal. Biasanya kalau film yang bagus, penonton tuh akan seksama dan terpaku," tutur dia.

Diakuinya tak jarang film di Indonesia yang mendapat kritik pedas oleh kritikus justru mendapat apresiasi di negara lain. Sebab terkadang pendekatan-pendekatan yang dilakukan kritikus bersebrangan dengan sang pembuat film.

"Film maker punya logika tersendiri. Gak peduli dengan ketepatan, liner, matematis. Karena menurut mereka (sutradara) seni itu ekspresif. Penilaian orang juga kan berbeda-beda. Jadi tergantung sisi mana yang ingin ditonjolkan," kata Tommy.
(mud/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed