Ratusan Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata Mulai Ditertibkan

Rachmadi Rasyad - detikNews
Kamis, 19 Jul 2018 17:47 WIB
Proses penertiban keramba jaring apug di waduk Cirata (Foto: Rachmadi Rasyad)
Bandung Barat - Petugas gabungan lintas instansi menertibkan petak keramba jaring apung (KJA) yang tersebar di Waduk Cirata. Penertiban KJA ini akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun ini.

Penertiban ini berlangsung di Waduk Cirata, Dermaga Pasir Geulis, Desa Margalaksana, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (19/7/2018). Penertiban melibatkan Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC), Dinas Perhubungan Jabar, Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar, Satgas Citarum Harum Sektor 12, dan Polsek Cipeudeuy.

KJA yang ditertibkan merupakan milik seorang pengusaha, Wawan Setiawan (46). Dari jumlah 1.580 petak yang dimilikinya, 474 petak akan ditertibkan secara bertahap hingga bulan Desember 2018. Hari ini, baru 56 petak ditertibkan dan dibawa ke darat.

Komandan Sektor 12 Citarum Harum Kolonel Satriyo Medi Sampurno mengatakan penertiban ini dilakukan setelah melalui pendekatan persuasif. Sehingga, sambung dia, penertiban tidak mendapat penolakan dari pemilik.

"Kita mulai dengan melakukan sosialisasi yang dimulai pada bulan April sampai Mei. Kemudian, kita tindak lanjuti dengan pendataan ulang. Berikutnya, mulai dengan 11 Juli kita melakukan penertiban di tiga kabupaten, yaitu Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta," tutur Satriyo saat ditemui di lokasi.

Foto: Rachmadi Rasyad
Menurutnya adanya KJA berdampak negatif bagi kualitas air. Hal itu dikarenakan adanya proses endapan dari sisa pakan ikan yang menimbulkan jamur. Padahal, air yang mengalir di Sungai Citarum dikonsumsi oleh 80% warga DKI Jakarta.

"Dampak dari adanya KJA, akan berpengaruh terhadap kualitas air di Waduk Cirata. Salah satunya, endapan dari sisa pakan ikan yang sudah sekian tahun itu akan menjamur. Padahal, air yang mengalir di Sungai Citarum ini kan dikonsumsi oleh 80% warga DKI Jakarta," jelas dia.

Sang pemilik KJA Wawan Setiawan mengaku rela 474 asetnya ditertibkan. Ia menilai penertiban yang dilakukan justru akan membuat daya dukung alam semakin baik sehingga memberi keuntungan pula baginya di kemudian hari.

"Kami harus memberikan 474 petak ini harus dikeluarkan dengan sukarela karena kami tidak mau menghalangi proses penertiban yang menurut kami ini proses terbaik untuk mendukung daya alam ini semakin baik," tuturnya yang telah jadi pengusaha sejak tahun 1998.

Ia mengatakan bahwa total kerugian yang dideritanya karena penertiban ini cukup besar mencapai Rp 2,4 miliar. Namun, ia tidak akan menuntut kompensasi apapun dari pihak-pihak yang terlibat dalam penertiban kali ini.

"Yang jelas 474 KJA itu kita kehilangan aset sekitar 2,4 miliar. Ini sukarela tanpa kompensasi apapun," ujarnya.

Satgas Citarum Harum Sektor 12 mencatat pada bulan Mei hingga Juni 2018 ,terdapat sekitar 98.397 KJA di Waduk Cirata. Jumlah itu mengalami peningkatan dibandingkan jumlah KJA pada Desember tahun 2016 sebanyak 77.169. (mud/mud)