DetikNews
Minggu 24 Juni 2018, 20:23 WIB

Beler Izin Tahlilan Sebelum Bantai Pemuda Karawang Pakai Gergaji

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Beler Izin Tahlilan Sebelum Bantai Pemuda Karawang Pakai Gergaji Gergaji es yang digunakan Beler untuk membantai korban. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)
Karawang - Orang tua Y alias Beler, Wahyudin dan Yulian, tak menyangka jika putranya telah melakukan pembunuhan. Padahal sebelumnya Beler izin untuk pergi tahlilan.

Beler merupakan pelaku pembantaian terhadap tiga pemuda di Kabupaten Karawang. Ia melukai tiga korbannya dengan menggunakan gergaji es. Akibat kejadian itu satu korban tewas sementara dua lainnya mengalami luka.

Wahyudin yang ditemui di rumahnya Kampung Dipo Timur, Kelurahan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, mengatakan anaknya sejak kejadian menjadi pendiam.

"Seperti ada masalah. Enggak banyak bercanda seperti biasanya," kata Wahyudin, Minggu (24/6/2018).

Sebelumnya, kata Wahyudin, anaknya itu keluar rumah pada Kamis 23 Juni malam atau saat malam takbiran memakai baju koko, celana panjang dan mengenakan peci. Beler izin keluar untuk tahlilan. "Keluar rumah setelah magrib, izin mau tahlilan ke rumah temannya. Saya enggak pernah lihat dia bawa gergaji. Di rumah ini enggak ada gergaji semacam itu," katanya.

Menurut Wahyudin Beler dikenal anak baik. Saat acara kelulusan sekolah awal Juni lalu, anaknya dipuji guru-gurunya. "Saya dengar dari wali kelas, guru dan pembimbingnya kalau anak saya enggak nakal. Selama sekolah dia berkelakuan baik dan dapat nilai plus. Dia tak pernah terlibat tawuran," kata Wahyudin yang bekerja di bengkel bubut.

Sementara itu Yulian sempat menegur anaknya satu hari setelah kejadian atau lebaran. "Sekarang kan lebaran, bukannya main malah diam saja. Kok kelihatannya beda, ada masalah apa kamu," kata Yulian menirukan ucapannya kepada Beler saat itu.

Saat itu Yulian mengaku tidak ada firasat buruk mengenai anaknya. Bahkan hingga kini perasaan tidak percaya jika anaknya telah menjadi pembunuh masih menyelimuti dirinya.

"Cita-citanya tak muluk, cuma ingin membantu orang tua, bekerja dan punya rumah," kata Yulian yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci.

"Saya masih nggak percaya. Tapi kami harus menerima hukum yang berlaku. Meski kalau boleh nyawa saya berikan buat anak saya. Biar saya saja yang dipenjara," tandas Yulian sambil menangis haru.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed