Berbagi untuk Difabel, 96 Lukisan 'Langka' Tampil di Bandung

Mukhlis Dinillah - detikNews
Selasa, 05 Jun 2018 22:10 WIB
Pameran lukisan ini pameran lukisan bertajuk 'Kebersamaan dan Keindahan Berbagi'. (Foto: Muklis Dinillah/detikcom)
Bandung - Lukisan tidak hanya berbicara karya seni, keindahan atau materi, tetapi juga berbagi. Sehingga nilai dari sebuah karya seni tidak hanya dinikmati oleh orang 'mampu' saja, tapi yang membutuhkan juga.

Pesan ini yang ingin disampaikan Galeri Saraswati Wibowo bersama The Trans Luxury Hotel Bandung melalui pameran lukisan bertajuk 'Kebersamaan dan Keindahan Berbagi'.

Pameran berlangsung 5 Juni-5 September 2018 di lantai mezzanine The Trans Luxury Hotel Bandung ini, menampilkan 96 karya 'langka' dari pelukis senior, Momon, Handoyo, Ken Bangun dan Gustomo.

"Kenapa saya bilang langka, karena ini karya lukisan tahun 1980-an koleksi kami. Ada pelukisnya yang sudah meninggal juga," kata pemilik Galeri Saraswati, Dwi Mukti Wibowo, kepada wartawan di The Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Soebroto, Kota Bandung, Selasa (5/6/2018).

Berbagi untuk Difabel, 96 Lukisan 'Langka' Tampil di BandungSalah satu lukisan yang dipamerkan. (Foto: Muklis Dinillah/detikcom)
Ia menuturkan sebagian besar lukisan yang dipamerkan menggambarkan kehidupan sosial masyarakat atau human interest. Mulai dari suasana jual beli di pasar, tolong menolong, dan berpacaran.

Tentunya karya lukisan yang disuguhkan ini sesuai dengan tujuan pameran saat ini. Karena sebagian besar hasil dari penjualan lukisan di pameran ini akan didonasikan kepada kalangan difabel.

Tujuannya kegiatan sosial yang selalu berkaitan manusia. Karena kami mengelola komunitas disabilitas netra. "Makanya kami kerja sama dengan The Trans Luxury dalam koridor program CSR bersama-sama berbagi," ujar Dwi.

Berbagi untuk Difabel, 96 Lukisan 'Langka' Tampil di BandungPameran lukisan berlangsung 5 Juni-5 September 2018 di The Trans Luxury Hotel Bandung. (Foto: Muklis Dinillah/detikcom)
Ia menjelaskan nantinya donasi itu akan diberikan dalam bentuk laptop. Tujuannya untuk memberikan pemahaman tentang era digitalisasi sebagai bekal kaum difabel di dunia pekerjaan.

"Kita akan berbagi laptop untuk menyongsong era digital, memberikan pemahaman mengenai marketing telematika. Harga lukisan ini juga tidak mahal, tidak sampai Rp 5 juta," tutur dia.

Kurator lukisan BCCF Andar Manik menilai puluhan karya seni yang dipamerkan saat ini mengagumkan. Sebab menceritakan tentang kehidupan sosial yang sangat dekat dengan masyarakat.

Apalagi setiap lukisan khususnya karya Momon dan Handoyo tampak hidup. Momon begitu terukur dan spontanitas lewat karyanya, sementara Handoyo lebih ekspresif namun tetap spontanitas.

"Kalau pameran lukisan itu biasanya di galeri white box, walaupun tidak memenuhi syarat (tempat) tapi karya bisa bicara yang kuat. Ada 96 karya tidak ada sesuatu (cerita) yang terputus, ini karena penataan yang sesuai," ujar dia.

Berbagi untuk Difabel, 96 Lukisan 'Langka' Tampil di BandungSalah satu lukisan yang dipamerkan. (Foto: Muklis Dinillah/detikcom)
Ia menyarankan kepada penikmat seni lukisan tidak membeli satu lukisan saja. Karena setiap lukisan yang dipamerkan ini merupakan sebuah cerita atau satu kesatuan.

"Karena lukisan yang ditampilkan ini merupakan rangkaian (cerita). Paling tidak kombinasi dari setiap karya pelukis yang ada di sini," kata Andar.



Tonton juga video: 'Melihat Antusiasme Pengunjung Indonesia Art Award 2018'

[Gambas:Video 20detik]

(bbn/bbn)