Kisah di Balik Gagahnya Baju Zirah Rampasan Tentara Portugis

Sudirman Wamad - detikNews
Kamis, 24 Mei 2018 18:03 WIB
Baju Zirah/Foto: Sudirman Wamad
Cirebon - Keraton Kasepuhan Cirebon menyimpan baju zirah yang usianya ratusan tahun milik tentara Portugis. Baju berbahan perunggu itu dipajang di Meseum Keraton Kasepuhan Cirebon.

Wakil Kabag Benda dan Bangunan Cagar Budaya Keraton Kasepuhan Raden Muhamad Hafidz Permadi mengatakan baju zirah milik Keraton Kasepuhan itu merupakan rampasan saat perang yang terjadi di Pelabuhan Sunda Kelapa Banten pada tahun 1527 antara pasukan gabungan kekeratonan Cirebon dan Demak dengan tentara Portugis.

"Perang itu terjadi atas instruksi dari Sunan Gunungjati. Saat itu, Fatahilah yang merupakan menantu dari Sunan Gunungjati diberi mandat untuk memimpin pasukan perang," kata Hafidz saat ditemui detikcom di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (24/5/2018).

Menurut Hafidz pasukan gabungan kekeratonan Cirebon dan Demak berhasil mengusir tentara Portugis. Perang melawan tentara Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa Banten, lanjut Hafid, menjadi pembuka berdirinya daerah-daerah baru, seperti Jayakarta dan Banten.

"Perang itu memang kejadian pertama di Jawa. Setelah perang itu, Pangeran Fatahilah diangkat menjadi Bupati Jayakarta dan Pangeran Saba Kinkin dingkat jadi Sultan Banten atau Maulana Hasanudin," katanya.
Kisah Dibalik Gagahnya Baju Zirah Rampasan Tentara PortugisFoto: Sudirman Wamad


Jayakarta yang sekarang menjadi Jakarta, dikatakan Hafidz, pada zaman Pangeran Fahatilah berada dalam kekuasaan kekeratonan Cirebon. Saat memimpin perang, sambung dia, Fatahilah membawa 1967 pasukan.

Pengusiran tentara Portugis itu, dikatakan Hafidz, menggunakan berbagai strategi. Pasalnya, dalam segi persenjataan pasukan kekeratonan terbilang kalah.

"Buktinya berhasil menang, pasulan kekeratonan pakai strategi. Selain baju zirah, sejumlah senapan dan meriam pun dirampas. Di Kasepuhan menyimpan sekitar 30 baju zirah sekarang ini, di keraton lainnya ada," kata Hafidz.



(avi/avi)