DetikNews
Selasa 17 April 2018, 17:05 WIB

Cerita Suara Gamelan dan Gemuruh Gudang Walet Runtuh di Cirebon

Sudirman Wamad - detikNews
Cerita Suara Gamelan dan Gemuruh Gudang Walet Runtuh di Cirebon Warga menggotong salah satu korban tertimpa runtuhan gedung walet di Cirebon. (Foto: istimewa)
Cirebon - "Nang ning nung, nang ning nung. Saya dengar suara orang latihan gamelan awalnya. Sesekali berhenti, terus bunyi lagi," kata Rasmiah (47) salah seorang tetangga Suherman Basari, pemilik sanggar seni yang tewas akibat keruntuhan tembok gudang walet di Cirebon.

Ditemui detikcom, Selasa (17/4/2018), Rasmiah menirukan suara gamelan yang ditabuh para pelajar yang belajar di sanggar Suherman, Desa Gegesik Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Rasmiah mengingat-ingat kembali detik-detik tragedi maut yang menimpa para pelajar dan Suherman.


Menurut Rasmiah, tiga kali setelah gamelan dibunyikan, suara gemuruh runtuhnya tembok gudang walet yang menimpa sanggar terdengar jelas. Bahkan, lantai rumahnya sempat bergetar.

Rasmiah kaget bukan kepalang. Rasa panik langsung menyergapnya. Tak pikir panjang, Rasmiah keluar rumah dan melihat salah seorang korban yang selamat dari ambruknya tembok gudang walet itu berlari seraya meminta pertolongan.

"Bruuuuuukkkkk...! Tolong, tolong! Kaget saya tuh, ada yang minta tolong-tolong. Saya sama tetangga lainnya langsung lari ke arah sanggar," kata Rasmiah sambil memperagakan teriakan korban yang selamat.


Sri (40), tetangga Suherman lainnya, merasakan hal serupa. Dia langsung menimpali perbincangan. Bahkan, menurut Sri, suara gemuruh ambruknya tembok gudang walet itu terdengar hingga ke dusun sebelah.

"Teman saya yang beda dusun juga dengar. Keras bunyinya. Terus juga tanah tuh sempat getar kaya gempa," timpal wanita berkerudung hitam itu.

Rasmiah dan Sri langsung berlari menuju lokasi kejadian. Terdengar tangisan dan permintaan pertolongan dari para korban yang selamat. Lima menit setelah kejadian, sejumlah tetangga juga turut melihat ke lokasi dan langsung bergegas mengevakuasi korban yang keruntuhan.

[Gambas:Video 20detik]

Isak tangis mewarnai proses evakuasi. "Pada nangis semua. Ibu-ibu pada panik dan nangis. Itu kondisi awalnya rata sama tanah. Korban tuh tertutup runtuhan tembok," Sri menambahkan.

Dia melihat proses evakuasi Tri Intan (13), pelajar SMPN 1 Gegesik yang selamat dari tragedi maut. "Minta tolong, terus ditarik warga. Tapi, rahangnya kesangkut besi. Akhirnya pelan-pelan. Kalau korban yang lainnya itu harus digali dulu," ucap Sri.

Sementara itu, Rasmiah sempat melihat Andra (13), pelajar SMPN 1 Gegesik, sebelum tewas akibat keruntuhan tembok gudang walet. Rasmiah mengatakan Andra sempat keluar sanggar sebelum kejadian. Tak lama kemudian Andra kembali masuk ke sanggar.

"Katanya nyamper temannya sama beli es. Sekitar pukul 10.20 WIB saya dengar suara itu. Setelah saya melihat Andra," ucap Rasmiah.


Menurut Rasmiah proses evakuasi berlangsung lama. Karena para warga yang mengevakuasi korban harus menggali terlebih dahulu. "Lama prosesnya. Nah, para korban yang meninggal sama yang luka langsung dibawa ke rumah sakit setelah evakuasi tuh," ujar Rasmiah.

Polisi tengah melakukan penyelidikan terkait penyebab runtuhnya tembok gudang walet itu. Bahkan, agar kejadian serupa tak terulang pihak kepolisian atas izin pemilik merobohkan tembok lainnya yang lapuk.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed