PVMBG Buat Kajian Tsunami di Pandeglang, Hasilnya Beda dengan BPPT

Mochamad Solehudin - detikNews
Jumat, 06 Apr 2018 15:20 WIB
Kajian potensi tsunami di Selatan Jawa dan Selat Sunda versi PVMBG/Foto: Mochamad Solehudin
Bandung - Tak hanya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang mengkaji potensi tsunami di Selatan Jawa dan Selat Sunda, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga membuat skenario tsunami di wilayah itu. Apabila kekuatan gempa 8,8 SR, ketinggian tsunami mencapai 10,7 meter.

Hal itu dikatakan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayat dalam konferensi pers, di Kantor Badan Geologi, Kota Bandung, Jumat (6/4/2018).

"Kami juga membuat model. Parameter yang kita masukan kekuatan gempanya 8,8 magnitudo tinggi tsunaminya 10,7 meter," jelasnya.

Sri menjelaskan angkanya hanya sebatas hasil kajian ilmiah, belum tentu terjadi. Begitu pula dengan potensi gempa 9 SR dengan tsunami setinggi 57 meter yang disampaikan BPPT hanya berupa kajian.

"Jadi sebenarnya BPPT banyak sekali skenario, skenarionya ada enam, paling tinggi itu 57 meter dengan sumber gempa didefinisikan 9 magnitudo," ujarnya.


Karena itu, ia meminta warga tidak panik dengan adanya informasi ini. "Pertama yah jangan terlalu panik, itu sebenarnya kajian ilmiah. Kita masyarakat jangan terlalu panik, cari dulu konfirmasi pada lembaga yang punya kewenangan," tandasnya.

Sementara itu Kepala PVMBG Kasbani menyatakan Indonesia adalah negara dengan potensi gempa yang cukup tinggi. Karena Indonesia berada pada pertemuan tinggi lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indonesia Australia, Pasifik dan Eurasia.

Dalam kurun waktu 27 tahun terakhir saja (1990-2017) setidaknya telah terjadi 166 gempa bumi merusak dan 16 di antaranya memicu terjadinya tsunami yang menelan lebih dari 277 korban jiwa.

"Jadi tsunami memang berpotensi di Indonesia.Penyebab tsunami hampir 80 persen itu disebabkan gempa terus erupsi gunung bawah laut, longsor bawah laut. Ketiga-tiganya kita punya," kata Kasbani di tempat sama.


Menurut Kasbani, di wilayah selatan Jawa dan Selat Sunda memang berpotensi terjadi gempa berkekuatan 8,7 magnitudo yang kini disebut sebagai megathrust. Dengan gempa berkekuatan sebesar itu berpotensi menimbulkan tsunami. Namun untuk ketinggian gelombangnya perlu melalui kajian.

"Tsunami bisa diprediksi atau tidak, untuk gempa saja (kapan terjadinya) kita tida tahu, untuk tsunami juga tidak tahu. Kecuali gempanya sudah terjadi. Karena tsunami ada beberapa syarat, pertama gempa besar, terus terjadi di laut dan kedalaman dangkal. Paling penting potensi tsunami itu bisa terjadi di laut selatan Jawa," katanya.

Meski begitu, menurut Kasbani, masyarkat tidak perlu terlalu khawatir. Karena paling penting saat ini adalah melakukan mitigasi bencana agar tidak menimbulkan dampak korban jiwa.

"Paling penting melakukan mitigasi (bencana)," ujarnya.

Pihaknya mengaku sudah melakukan beberapa upaya mitigasi. Pertama melakukan penelitian endapan tsunami untuk mengetahui jejak landasan tsunami yang pernah terjadi sebelumnya.

"Setelah meneliti itu, kita buat kawasan rawan tsunami. Ini kita sudah petakan berdasarkan sejarah dan potensi. Ini yang kita petakan," ujarnya.

Setelah itu diketahui, maka perlu ada upaya lanjutan dalam mitigasi bencana tsunami ini. Mulai dari tidak mendirikan bangunan dalam jangana tsunami, mempertahankan hutan pantai dan gumuk pasir alamiah, membuat pelatihan tata cara menghindari tsunami, Perda/RTRW berwasawan bencana tsunami dan menyiapkan sistem peringatan dini.

"Karena tsunami cepat atau lambat bisa datang cuman kapannya kita tidak tahu," ujarnya.

[Gambas:Video 20detik]

(ern/ern)