detikNews
Kamis 05 April 2018, 16:04 WIB

Dinamika Terorisme di Indonesia Dipengaruhi Konflik Suriah

Mukhlis Dinillah - detikNews
Dinamika Terorisme di Indonesia Dipengaruhi Konflik Suriah Seminar dan bedah buku 'Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya' di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Foto: Muklis Dinillah/detikcom)
Bandung - Dinamika aksi terorisme yang terjadi di Indonesia sepanjang lima tahun terakhir, sangat dipengaruhi situasi konflik di Suriah. Ketatnya pintu masuk ke Suriah bagi para mujahidin asal Indonesia, justru memicu aksi jihad di negeri sendiri.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Solahudin mengungkapkan dalam lima tahun terakhir serangan teror yang digagalkan terjadi di Indonesia mengalami naik-turun. Terutama penurunan serangan teror secara signifikan yang terjadi pada 2014.

Ia mencatat pada 2013 ada sekitar 21 kasus. Namun, pada 2014 mengalami penurunan signifikan atau hanya 6 kasus. Tetapi secara mengejutkan, aksi terorisme kembali meningkat pada 2015 menjadi 22 kasus dan cenderung stagnan di tahun selanjutnya.

"Saya menggabungkan serangan teror aktual contohnya bom kampung melayu dan plot serangan yang berhasil digagalkan oleh Densus 88. Artinya yang gagal itu mereka sudah punya bom, target, tetapi keburu tertangkap," kata Solahudin dalam seminar dan bedah buku 'Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya' di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Kamis (5/4/2018).

Menurut dia, penurunan kasus teror di Indonesia pada 2014 dilatarbelakangi oleh pengalihan perhatian mujahidin kepada konflik di Suriah. Pada mujahidin kala itu lebih memilih berjuang bersama kelompok oposisi Islamic State in Iraq and Syria (ISIS).

Kesimpulan itu, sambung Solahudin, didapat melalui pengakuan salah seorang teroris bernama Anton yang ditangkap Densus 88 di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang, Banten, akhir 2013 silam. Sebulan sebelum ditangkap karena penyerangan terhadap polisi, Anton disebut-disebut terlibat perampokan bank.

"Ketika diinterogasi, uang hasil perampokan untuk apa, katanya sebagiannya untuk membantu keluarga mujahidin yang ditangkap dan ditembak mati. Sebagian juga membiayai ke Syria (Suriah), karena jihad di sana saat itu jauh lebih utama dibanding Indonesia. Itu yang menjadi penyebab aksi teror di Indonesia di tahun 2014 turun, karena mereka berbondong-bondong ke Syria," tuturnya.

Apalagi, Solahudin melanjutkan, saat itu kebijakan politik Turki sebagai negara yang menjadi pintu masuk menuju Suriah melonggarkan perbatasannya untuk dilalui pendatang dari berbagai negara. Hingga akhirnya ada desakan dari berbagai negara untuk memperketat perbatasan Turki-Suriah.

"Karena ada desakan dari berbagai negara saat itu, akhirnya pada tahun 2015, Turki mengubah kebijakan politiknya untuk memperketat perbatasan. Sehingga banyak pendatang dari berbagai negara termasuk Indonesia gagal dan dideportasi saat mencoba melewati perbatasan Turki-Syria," ujar Solahudin.

Situasi tersebut direspons oleh pimpinan ISIS di Indonesia yakni Aman Abdurrahman. Ia mengeluarkan fatwa kepada pengikutnya dengan sejumlah pilihan, yaitu hijrah ke Suriah bila memungkinkan. Lalu berjihad di Indonesia atau menyumbangkan hartanya untuk mujahidin lainnya.

"Nah ini yang melatarbelakangi peningkatan aksi teror di Indonesia tahun 2015. Karena pintu jihad ke Syria ditutup, maka jihad di Indonesia terbuka," ucap Solahudin.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com