DetikNews
Jumat 23 Maret 2018, 14:53 WIB

Kisah Pasutri di Kabupaten Bandung Urus Dua Anak Gangguan Jiwa

Wisma Putra - detikNews
Kisah Pasutri di Kabupaten Bandung Urus Dua Anak Gangguan Jiwa Eno (70)/Foto: wisma putra
Kabupaten Bandung - Beban yang dipikul pasangan suami istri (pasturi) Eno (70) dan Imas (50) warga Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat tidak ringan. Diusia senjanya, pasturi ini harus mengurusi kedua anaknya yang mengalami gangguan kejiwaan atau orangan dengan gangguan jiwa (ODGJ), Maesaroh (35) dan Sudrajat (32). Seperti apa kisahnya?

Saat dijumpai di rumahnya, Jumat (23/3/2018) yang berada di Kampung Kebon Kalapa, Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Eno mengatakan jika kedua anaknya mengalami gangguan kejiwaan sudah sejak kecil.

Tidak sebentar, sudah puluhan tahun, pasturi ini merawat Maesaroh dan Sudrajat hingga mereka dewasa. Bahkan Sudrajat harus dirantai karena kerap mengamuk. "Anak saya mengalami gangguan jiwa saat berumur tiga tahun," kata Eno.

Pria beruban itu berujar, ia tidak mengetahui mengapa anaknya bisa mengalami gangguan kejiwaan. "Saya juga tidak tahu, kalau pas umurnya dua tahun sehat-sehat saja, tapi pas menginjak umur tiga tahun mengalami gangguan kejiwaan," ujarnya.

Sebelumnya ia tidak menyadari jika anaknya mengalami gangguan kejiwaan, karena tidak pernah di bawa ke rumah sakit. Ia mengira, jika kedua anaknya itu hanya anak berkebutuhan khusus.

Ia mulai menyadari, anaknya mengalami gangguan kejiwaan saat beranjak dewasa. Hal tersebut dilihat dari perubahan perilaku yang dilakukan oleh kedua anaknya itu.

"Sebenarnya saya punya tiga anak, tapi anak yang pertama bernama, Supriatna (38) meninggal dunia. Supriatna sehat tidak seperti kedua adiknya, bahkan ia sempat menikah dan memiliki seorang anak," ungkapnya.

Eno menambahkan, kedua anaknya itu memiliki karakter yang berbeda, Maesaroh lebih pendiam dan Sudrajat lebih beringas. Bahkan karena sering kabur-kaburan, ia merantai kaki Sudrajat agar tidak kabur-kaburan. "Kaburnya jauh, ke Soreang, Banjaran bahkan Padalarang dan tidak sebentar, kadang dua sampai tiga Minggu," tambahnya.

Eno bersama istri dan anak-anaknya tinggal di pemukiman padat penduduk. Ia tinggal di rumah bilik semi permanen dan berlantaikan tembok berukuran sekitar 4x8 meter. Saat berkunjung, dari dalam rumahnya tercium bau tidak sedap seperti bau air kencing dan kotoran.

Tubuh kedua anak Eno sangat kurus, mereka banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, Maesaroh lebih sering melamun di teras rumah, sedang Sudrajat banyak berdiam diri di dalam rumah dengan kondisi kaki sebelah kanannya di rantai.

"Saya rantai kakinya karena sering kabur. Ya mau gimana lagi, kalau kabur susah mencarinya, suka jauh. Gini-gini juga saya sayang ke anak," ujarnya.

Eno menuturkan, ia pernah membawa Sudrajat ke rumah sakit jiwa, namun karena sering ngamuk dan tidak dapat diam akhirnya ia membawa pulang kembali anaknya itu. Tidak hanya itu, ia juga pernah membawa anaknya ke pengobatan alternatif. "Pernah dibawa ke rumah sakit jiwa, tapi karena tidak bisa duduk (tidak bisa diam), saya bawa pulang lagi ke rumah anaknya," tuturnya.

Dalam kesehariannya Eno hanya bekerja serabutan. Dia menjual Singkong dan ubi, itu pun kalau barangnya sedang ada, kalau tidak ada barang, Eno terpaksa menganggur. Dan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, Eno terpaksa memanfaatkan pemberian orang lain.

"Kalau ada barang saya ngemodal Rp 200 ribu, untungnya paling Rp 50 ribu. Kalau enggak ada barang, paling ada orang yang sering ngasih aja," katanya.

Karena usia Eno dan istrinya sudah tua, ia berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan kesehatan untuk kedua anaknya. "Saya ingin anak saya diobati, supaya sembuh. Pernah waktu itu ada ibu-ibu fotoin anak saya, katanya mau ngasih bantuan tapi tidak ada," jelasnya.


Cerita Aneh

Istri Eno, Imas menceritakan keanehan saat kedua anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Imas berujar, sebelum anaknya mengalami gangguan kejiwaan ia sempat menemukan keanehan.

"Kejadiannya hari Senin, jam 11 siang. Maesaroh saat itu menginjak usia tiga tahun tiba-tiba dan nangis di siang bolong. Tangisannya tidak berhenti," ujar Imas.

Sesaat anaknya menangis, ia tiba-tiba menemukan ular berwana hitam dan kuning, namun tidak memiliki kepala dan ekor yang muncul di dekat Rumahnya. Pada saat itu, ia masih tinggal di wilayah Cibaduyut. Seraya itu, ia langsung mengeluarkan jampi-jampi. Seingatnya, kejadian itu terjadi pasca Gunung Galunggung meletus di Tahun 1982.

"Saya lihat ularnya dan saat menenangkan anaknya tiba-tiba ularnya hilang. Saya langsung berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Sejak saat itu, anak perempuan saya sakit (gangguan kejiwaan)," ujarnya.

Kisah Pasturi di Kabupaten Bandung Urus Dua Anak Gangguan Jiwasalah satu anak Eno dan Imas/Foto: wisma putra


Tiga tahun berselang sebelum mengalami gangguan kejiwaan, Sudrajat pun mengalami kejadian yang sama seperti kakaknya Maesaroh yang tidak berhenti menangis.


(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed