Tersangka Penyebar Hoax PKI Gugat Polres Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Senin, 19 Mar 2018 13:58 WIB
Foto: Ilustrator: Mindra Purnomo
Foto: Ilustrator: Mindra Purnomo
Sukabumi - Ri (22), tersangka penyebaran hoax soal PKI, melakukan gugatan praperadilan terhadap Polres Sukabumi. Sidang praperadilan yang mestinya berjalan hari ini ditunda karena pihak termohon yakni Polres Sukabumi tidak hadir.

Kuasa hukum Ri, Saleh Hidayat, menilai proses penangkapan, penahanan dan penetapan tersangka oleh polisi tidak sah karena dilakukan maraton dalam satu hari.

"Klien kami ditangkap begitu saja dalam hari dan tanggal yang sama (16 Februari) ditetapkan tersangka, kemudian penahanan di hari yang sama. Artinya proses pemeriksaan sebagai calon tersangka terlebih dahulu tidak dilakukan oleh pihak termohon," kata Saleh kepada detikcom di Pengadilan Negeri (PN) Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, Senin (19/3/2017).


Saleh berpegangan pada ketentuan Pasal 112 KUHAP yaitu jika tindak pidana masih bersifat dugaan maka seharusnya ada pemanggilan dulu secara sah.

"Maksimal dua kali berturut-turut kalau tidak hadir baru bisa ditangkap, ini kan tidak," ujar Saleh.

Saleh enggan menanggapi soal perkara pokok yang menjerat kliennya, karena saat ini dirinya hanya fokus kepada proses praperadilan. "Praperadilan bukan mengenai pokok perkara, namun mempersoalkan sah tidaknya proses penangkapan, penahanan dan penetapan tersangka, yang menurut kami itu tidak sah secara hukum. Ya karena tidak sesuai dengan ketentuan KUHAP," tutur Saleh.


Gara-gara memasang status hoax soal PKI di media sosial Facebook, warganet inisial Ri (22), warga Desa Citepus, Kabupaten Sukabumi, terpaksa harus berurusan dengan Polres Sukabumi, Jumat (13/2/2018).

Peristiwa bermula saat pria tersebut membuat status di salah satu grup Palabuhanratu (daerah di Kabupaten Sukabumi). Saat itu Ri membuat keterangan foto bertuliskan, 'PKI pura2 gelo di palabuhanratu.. Beres beunang tah digebugan (PKI pura-pura gila di Palabuhanratu, sudah dapat nih dipukuli)'. Tulisan Ri itu disertai gambar seorang pria tengah dihakimi massa. (bbn/bbn)