DetikNews
Kamis 08 Maret 2018, 18:54 WIB

Kiprah Alimudin Rintis Kampung Angklung di Ciamis

Dadang Hermansyah - detikNews
Kiprah Alimudin Rintis Kampung Angklung di Ciamis Alimudin (51) sosok perintis Kampung Angklung di Kabupaten Ciamis. (Foto: Dadang Hermansyah
Ciamis - Melimpahnya sumber daya alam di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dimanfaatkan warga untuk menjalani usaha. Seperti ditekuni Alimudin (51). Pria biasa dipanggil Mumu Angklung ini menjadi perajin alat musik tradisional. Dia turut memberdayakan masyarakat setempat.

Mumu juga sebagai perintis berdirinya Kampung Angklung di Ciamis. Kiprah Mumu awalnya hanya buruh pembuatan angklung di Banjar, Jawa Barat, pada 1975. Saat itu Banjar masih menyatu dengan Ciamis.

Lulus sekolah STM pada 1986, Mumu mulai menguasai pembuatan alat musik bambu yang digoyang ini. Termasuk dalam menyinkronkan nada.

"Dulu itu oleh pemilik pabrik angklung pegawai itu tidak diberikan ilmu pembuatan angklung. Tapi saya bekerja di sana sambil belajar sendiri sampai bisa, terlebih di Ciamis ini terdapat banyak bahan baku bambu," ujar Mumu saat ditemui di kediamannya, Dusun Linggamanik, RT 02 RW 07, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Kamis (8/3/2018).

Pada 1992, setelah menguasai teknik membuat angklung, Mumu hijrah ke Ciamis, tepatnya di Desa Panyingkiran. Ia merintis usaha produksi angklung. Semula hanya skala kecil, lalu angklung buatan Mumu mulai dilirik pasar domestik. Order pesanan angklung mulai meningkat.

Mumu mengajak masyarakat sekitar untuk ikut bersama-sama memproduksi Angklung. sehingga pesanan yang mulai meningkat itu bisa terpenuhi.

"Kalau yang lain mungkin tidak akan mengajarkan hal itu karena khawatir tidak ada orderan. Tetapi bagi saya memberikan ilmu yang bermanfaat itu yang mengalir. Buktinya sampai sekarang saya tidak kekurangan order, malah terus bertambah," tuturnya.

Kiprah Alimudin Rintis Kampung Angklung di CiamisAlimudin alias Mumu Angklung. (Foto: Dadang Hermansyah/detikcom)
Di kampungnya sudah ada sekitar 100 perajin angklung, yang hampir semuanya binaan Mumu. Sehingga mayoritas mata pencaharian di RW 07 Dusun Linggamanik perajin angklung.

Banyaknya perajin Angklung, membuat Mumu berinisiatif untuk merintis daerahnya menjadi Kampung Angklung pada 2014. Setelah mengajukan kepada Pemkab Ciamis dengan penuh perjuangan, akhirnya pada 2016, RW 07 Dusun Linggamanik resmi menyandang Kampung Angklung.

Bahkan pada 2016, Mumu mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sebagai pelopor pemberdayaan masyarakat.

Angklung produksi Kampung Angklung ini sudah merambah ke seluruh Indonesia, terutama pasar wisata antara lain Bali, Lombok, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Setiap hari Mumu bisa memproduksi 20 set angklung. Harga satu setnya sekitar Rp 60 ribu dan paling mahal seperti angklung arumba mencapai jutaan rupiah per set.

"Saat ada Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, di sini dapat pesanan sebanyak 20 ribu angklung," ucap Mumu.

Mumu mengungkapkan angklung hasil produksinya pernah menembus pasar Asia, meskipun tidak melakukan ekspor secara langsung. Ia bekerja sama dengan pihak perusahaan dan yayasan, untuk ekspor ke Jepang pada 2004.

"Umumnya untuk angklung standarnya nada, tapi Angklung milik saya ada ciri khasnya lukisan batik, serta kualitas bahan bambu kering," ujarnya.

Menurut Mumu, setelah dinobatkan sebagai Kampung Angklung, ia dan perajin lainnya mengklaim tak sepi pesanan. Bukan hanya itu, Kampung Angklung kerap dikunjungi oleh mahasiswa dari luar daerah untuk belajar membuat angklung.

Namun di kampung ini belum memiliki galeri. Selain itu fasilitas sarana dan prasarana masih kurang seperti sanggar dan tempat pertunjukan.

"Harapannya Pemkab Ciamis lebih proaktif dalam mengembangkan Kampung Angklung ini. Juga ke depannya mudah-mudahan bisa menjadi salah satu destinasi wisata budaya," tutur Mumu.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed