"Bahannya plastik, kemudian cetakan, alat pemadat sama cat," kata Muslimat kepada wartawan di Makodim Garut, Jalan Veteran, Grut Kota, Selasa (6/3/18).
Sampah yang digunakan adalah sampah plastik, mulai dari bekas kresek hingga botol minuman plastik. 3 kilogram sampah plastik dibutuhkan untuk membuat satu bata beton berbentuk hexagonal.
Foto: Hakim Ghani |
Para prajurit Kodim Garut biasanya mengumpulkan sampah plastik dari pemukiman warga serta saat gelaran Car Free Day yang biasa digelar di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Garut, setiap minggu pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah meleleh, sampah plastik kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk hexagonal. "Dimasukkan ke cetakan sampai penuh dan padat di dalamnya," ujar dia.
Lelehan plastik dalam cetakan Kemudian dipress menggunakan alat pemadat. Bisa juga dilakukan menggunakan alat press yang biasa ditemui di tukang tambal ban.
"Setelah itu, kemudian dinginkan. Lepaskan dari cetakan terus dicat," ucap Muslimat.
Bata beton berbahan sampah plastik ini memiliki sejumlah keunggulan. Selain lebih kuat dari bata beton berbahan pasir, bata beton dari plastik ini juga lebih ringan.
"Beratnya lebih ringan dari paving block pasir. Ini juga tidak licin karena ada pori-porinya," pungkas Muslimat.
Sejak pertama diperkenalkan akhir Februari tahun ini, bata beton dari sampah plastik banyak diminati masyarakat. Bahkan ada beberapa instansi yang kabarnya berminat memesan.
"Pada dasarnya kita hanya menggungah masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, juga agar masyarakat memanfaatkan sampah menjadi barang yang bermanfaat," kata Dandim Garut Letkol Infanteri Asyraf Aziz hari ini, di tempat yang sama. (avi/avi)












































Foto: Hakim Ghani