DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 22:09 WIB

Ibu di Bandung Digugat Anaknya yang Sudah Dapat Warisan dari Ayah

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Ibu di Bandung Digugat Anaknya yang Sudah Dapat Warisan dari Ayah ilustrasi PN Bandung/Foto: Dony Indra Ramadhan
Bandung - Persoalan tanah warisan dipermasalahkan empat orang anak terhadap ibu kandungnya sendiri, Cicih (78). Padahal empat orang anak tersebut sudah mendapatkan jatah warisan masing-masing.

Empat orang anak yaitu Ai Sukawati, Dede Rohayati, Ayi Rusbandi dan Ai Komariah menggugat Cicih ke Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Cicih digugat anak-anaknya terkait persoalan warisan tanah yang diberikan suaminya Udin kepada Cicih di Jalan Embah Jaksa Nomor 19 RT 01 RW 01 Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru Kota Bandung.

Baca Juga: Tega! Empat Orang Anak di Bandung Gugat Ibu Kandungnya

Mereka menggugat Cicih secara perdata senilai Rp 1,6 miliar. Gugatan tersebut terdiri atas gugatan materil sebesar Rp 670 juta dan gugatan imateriil sebesar Rp 1 miliar.

"Padahal bapaknya (suami Cicih) sebelum meninggal sudah membagikan harta ke empat anaknya," ujar pengacara Cicih, Hotma Agus Sihombing kepada detikcom via sambungan telepon, Selasa (20/2/2018).

Di rumah yang disengketakan itu, keempat anaknya juga mendapat jatah. Ai Sukmawati mendapat bagian seluas 1.070 meter persegi, Dedi Rohayati seluas 116,6 meter persegi, Ayi Rusbandi 324 meter persegi dan Ai Komariah seluas 222,58 meter persegi.

Selain sebidang tanah di lokasi tersebut, keempat anaknya juga mendapat bagian dari harta warisan Udin berupa lahan kebun di Cilengkrang Kecamatan Cibiru dan lahan sawah di Warga Mekar, Baleendah Kabupaten Bandung.

Untuk lahan kebun, masing-masing mendapatkan 20 tumbak. Sementara lahan sawah, masing-masing mendapat 50 tumbak.

Sementara Cicih mendapatkan tanah dan bangunan seluas 332 meter persegi. Harta dari suaminya dibagikan sebelum sang suami meninggal dunia.

Dalam perjalananya, kata Agus, anak-anak Cicih justru meninggalkan ibu kandungnya. Lantaran sudah jarang ditengok, kata dia, Cicih terpaksa berhutang ke tetangganya guna menghidupi biaya sehari-hari ia, anak bungsunya Alit dan satu cucu yang tak lain anak dari salah satu penggugat.

"Ibu Cicih enggak punya uang lagi. Dia merasa ada sisa dari hibah suaminya. Karena merasa bagian dia, jadi untuk mempertahankan hidupnya terpaksa dia jual," katanya.

Ia akhirnya menjual sebidang tanah pemberian suaminya seluas 91 meter persegi. Lahan tersebut dijual seharga Rp 250 juta.

Agus menuturkan, uang dari hasil penjualan tanah tersebut dipakai untuk membayar hutang kepada tetangganya. Ia terpaksa berhutang untuk membiayai kehidupan sehari-hari ia beserta anak bungsunya Alit dan seorang cucunya yang tak lain anak penggugat lantaran sejak suaminya meninggal, ia tak mendapat nafkah sekalipun dari anak kandungnya sendiri.

"Cucunya hidup satu rumah. Bahkan selain membiayai sehari-hari, ibu Cicih juga membiayai sampai cucunya sekolah," katanya.

Selain membayar hutang, uang hasil penjualan tersebut juga diberikan kepada salah satu anaknya yang turut menggugat Ai Komariah. Uang senilai Rp 138 juta diberikan Cicih untuk renovasi rumah Ai sehingga menjadi kos-kosan.

"Ada salah satu rumah penggugat, jadi dari penjualan itu diberikan juga kepada anaknya untuk merenovasi dan dibangun kos-kosan supaya ada penghasilan. Sehingga sekalipun rumahnya sebagian dijual, itu untuk menutup hutang sekaligus membangun rumah penggugat," tuturnya.

Namun nyatanya apa yang dilakukan Cicih tak dibalas anak-anaknya. Selain Ai Komariah, tiga anak lainnya Ai Sukawati, Dede Rohayati dan Ayi Rusbandi menggugat secara perdata Cicih ke PN Bandung dengan nilai gugatan mencapai Rp 1,6 miliar. Penggugat berdalih, Cicih menjual tanah warisan itu tanpa sepengetahuan mereka.
(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed