DetikNews
Jumat 09 Februari 2018, 19:24 WIB

Mengolah Rasa Lewat Lukisan Para Tuna Netra

Mochamad Solehudin - detikNews
Mengolah Rasa Lewat Lukisan Para Tuna Netra Saat para penyandang disabilitas melukis/Foto: Mochamad Solehudin
Jakarta - Zaenal (26) seorang penyandang disabilitas netra terlihat begitu asik menggoreskan kuas cat air di atas kanvas putih di hadapanya. Berbagai warna ia padukan sehingga menghasilkan sebuah karya lukis yang menggambarkan perasaannya.

"Tadi bingung mau gambar apa, cuman pas liat tetehnya jadi gambar bunga," kata Zaenal dengan nada menggoda, saat mengikuti pelatihan melukis, di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyataguna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jumat (9/2/2018).
Mengolah Rasa Lewat Lukisan Para Penyandang Disabilitas NetraFoto: Mochamad Solehudin

Zaenal sendiri adalah seorang penyandang low vision. Dia bersama puluhan siswa PSBN Wyataguna baik yang low atau buta total mengikuti sebuah pelatihan melukis yang diinisasi oleh Komunitas Teman Tanpabatas.

Dalam melukis para peserta didampingi oleh relawan. Melalui para relawan itu para peserta meminta bantuan untuk menyerahkan warna cat air yang cocok dengan objek lukisan yang dibuatnya.

Kurang lebih 30 menit puluhan lukisan hasil karya penyandang disabilitas netra tercipta. Berbagai macam lukisan, seperti bunga, pemandangan hingga lukisan abstrak menjadi visualisasi dari ekspresi yang muncul di masing-masing peserta.

Penggagas Komunitas Teman Tanpabatas Gery Bagus Karang mengatakan, pelatihan ini sengaja digelar untuk menggali potensi para penyandang disabilitas netra. Karena dia yakin, di dalam diri para penyandang disabilitas netra ini tersimpan potensi yang luar biasa.

"Kita percaya setiap manusia itu diberi kelebihan. Melalui acara ini kita bisa menggali kelebihan dari difabel netra," katanya, di lokasi acara.
Mengolah Rasa Lewat Lukisan Para Tuna NetraFoto: Mochamad Solehudin

Selain itu, pihaknya juga ingin memberi edukasi kepada masyarakat luas bila kegiatan melukis itu bukanya hanya sekedar seni visual. Tapi juga melibatkan perasaan tergantung ekpresi yang coba disampaikan oleh pelukisnya.

"Kita juga inging mengedukasi masyarakat, melukis itu bukan hanya sekedar visual tapi juga soal rasa. Teman-teman difabel netra ini rasanya sudah terlatih," ujar Gery.

Dia menambahkan, pelatihan melukis ini merupakan kegiatan yang baru pertama digelar. Gery berharap kegiatan pelatihan ini bisa terus belanjut. "Visinya kita jangka panjang dan mau enggak mau hal yang dilakukan berkelanjutan," tandasnya.

Sementara itu, Humas PSBN Wyataguna Suhendar memenarkan bila pelatihan melukis ini menjadi yang pertama digelar. Sebanyak 20 peserta yang terlibat baik yang low vision dan buta total.

"Ini kegiatan pertama di Wyataguna bahkan mungkin di panti-panti di bawah Kemensos," ujarnya.

Dia juga menilai positif kegiatan pelatihan ini. Apalagi lanjut dia, kegiatan melukis ini menjadi bukti bila penyandang disabilitas netra juga mampu menghasilkan karya lukis yang indah.

"Lukisan itu identik dengan visual. Tapi ini bagaimana memaksimalkan perasaan yang dituangkan dalam gambar. Gambar seperti apa yang penting ini hasil imajinasi mereka," tandasnya.
(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed