Lelaki yang akrab disapa Bima ini kali pertama mengenal cangklong dari sang kakek, Otje. Ilmu meracik cangklong yang ia serap dari kakeknya tersebut telah menjadi sumber rezeki.
"Dulu belajarnya (buat cangklong) dari kakek," kata Bima di kediamannya, Jalan Geger Arum No.11B, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/2/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Pada tahun 2000, Bima terjun langsung membuat cangklong dengan bahan-bahan lokal seadanya, seperti dari kayu pohon asem. Hasil karya itu djual ke teman-temannya.
Lantaran sibuk, aktivitas Bima memproduksi cangklong sempat terhenti. Bima memilih merantau dan bekerja di Korea Selatan selama tujuh tahun.
Menginjak tahun 2014, Bima memutuskan pulang ke Indonesia dan membuka usaha studio foto. Ia memang menyukai dunia fotografi.
Bisnisnya tersebut hanya bertahan kurang lebih selama enam bulan. Bima banting stir lalu menekuni kembali seni membuat cangklong. Dia manfaatkan ruangan kecil di bagian rumahnya sebagai studio.
"Saya jual alat-alat foto itu, terus saya beli mesin bubut dan alat lainnya untuk pembuatan cangklong. Passion saya akhirnya di situ. Saya pelajari luar dalam (pembuatan cangklong) hingga sekarang," ucap Bima.
![]() |
"Briar ini kayu tungku, jadi awet dipakai puluhan tahun. Saya ambil (impor) kayu briar ini yang grade satunya. Jadi tenang berani olah dan menjual padud (cangklongnya) karena terjamin bagus," tuturnya.
Cangklong buatan Bima sudah dikenal banyak orang. Bima Pipes (BP) sebagai merek dagangnya sudah banyak digunakan bahkan dikoleksi pecinta cangklong di berbagai negara. Seperti Jerman, Amerika, Korea, Jepang, dan Singapura.
"Pemesannya banyak, ada yang dari Indonesia, ada juga dari Amerika, Korea, Jepang, Singapura," ucap Bima.
Bima menjual cangklongnya itu mulai dari Rp 2 juta, tergantung tingkat kesulitan dan kerumitan cangklong yang dibuat. Bahkan ada juga cangklong buatannya yang laku Rp 5 juta.
"Mahal memang, tapi kualitasnya di sini terjamin," ujar Bima. (bbn/bbn)