Cangklong Karya Warga Bandung Ini Menembus Pasar Dunia

Cangklong Karya Warga Bandung Ini Menembus Pasar Dunia

Mochamad Solehudin - detikNews
Kamis, 08 Feb 2018 12:38 WIB
Cangklong buatan warga Bandung yang mendunia. (Foto: Mochamad Solehudin/detikcom)
Bandung - Edy Dyana (44) nama lengkapnya. Dia seniman cangklong atau pipa tembakau asal Kota Bandung. Cangklong buatan tangannya sukses menembus pasar dunia.

Lelaki yang akrab disapa Bima ini kali pertama mengenal cangklong dari sang kakek, Otje. Ilmu meracik cangklong yang ia serap dari kakeknya tersebut telah menjadi sumber rezeki.

"Dulu belajarnya (buat cangklong) dari kakek," kata Bima di kediamannya, Jalan Geger Arum No.11B, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/2/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cangklong Karya Warga Bandung Ini Menembus Pasar DuniaEdy Dyana serius menekuni bisnis cangklong sejak 2014. (Foto: Mochamad Solehudin/detikcom)
Pipa tembakau atau cangklong ini pertama kali dikenal sejak 1600-an di Eropa. Meski disebutkan dalam catatan sejarah bahwa penduduk asli Amerika Utara menggunakan pipa pengisap tembakau sejak 1500 sebelum masehi.

Pada tahun 2000, Bima terjun langsung membuat cangklong dengan bahan-bahan lokal seadanya, seperti dari kayu pohon asem. Hasil karya itu djual ke teman-temannya.

Lantaran sibuk, aktivitas Bima memproduksi cangklong sempat terhenti. Bima memilih merantau dan bekerja di Korea Selatan selama tujuh tahun.

Menginjak tahun 2014, Bima memutuskan pulang ke Indonesia dan membuka usaha studio foto. Ia memang menyukai dunia fotografi.

Bisnisnya tersebut hanya bertahan kurang lebih selama enam bulan. Bima banting stir lalu menekuni kembali seni membuat cangklong. Dia manfaatkan ruangan kecil di bagian rumahnya sebagai studio.

"Saya jual alat-alat foto itu, terus saya beli mesin bubut dan alat lainnya untuk pembuatan cangklong. Passion saya akhirnya di situ. Saya pelajari luar dalam (pembuatan cangklong) hingga sekarang," ucap Bima.

Cangklong Karya Warga Bandung Ini Menembus Pasar DuniaCangklong made in Bandung ini berbahan kayu briar. (Foto: Mochamad Solehudin/detikcom)
Guna menjaga kualitas cangklong buatannya, Bima mengimpor langsung bahan baku berupa kayu briar dan ujung cangklong tempat menempelkan mulut. Ia membeli bahan itu dari Italia, Yunani dan Aljazair.

"Briar ini kayu tungku, jadi awet dipakai puluhan tahun. Saya ambil (impor) kayu briar ini yang grade satunya. Jadi tenang berani olah dan menjual padud (cangklongnya) karena terjamin bagus," tuturnya.

Cangklong buatan Bima sudah dikenal banyak orang. Bima Pipes (BP) sebagai merek dagangnya sudah banyak digunakan bahkan dikoleksi pecinta cangklong di berbagai negara. Seperti Jerman, Amerika, Korea, Jepang, dan Singapura.

"Pemesannya banyak, ada yang dari Indonesia, ada juga dari Amerika, Korea, Jepang, Singapura," ucap Bima.

Bima menjual cangklongnya itu mulai dari Rp 2 juta, tergantung tingkat kesulitan dan kerumitan cangklong yang dibuat. Bahkan ada juga cangklong buatannya yang laku Rp 5 juta.

"Mahal memang, tapi kualitasnya di sini terjamin," ujar Bima. (bbn/bbn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads