Sungai Citarum Masih Tercemar Limbah Tekstil dan Kertas

Wisma Putra - detikNews
Senin, 05 Feb 2018 14:38 WIB
Sungai CItarum (Foto: (Wisma Putra/detikcom)
Kabupaten Bandung - Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat bersama tim patroli Citarum Harum menyusur sejumlah pabrik di sepanjang aliran Sungai Citarum. Hasil penyusuran itu ditemukan warna air sungai di sekitar pabrik-pabrik lebih kental dan mengeluarkan bau zat kimia menyengat.

"Sebagian besar (diduga membuang limbah pabrik) tekstil, ada kertas juga," ujar Anang kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jabar Anang Sudarna Anang kepada wartawan saat meninjau Sungai Citarum di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Senin (5/2/2018).


Petugas gabungan yang dari aparat dinas, TNI dan Polri mengambil sampel air yang diduga menyimpan kandungan limbah tersebut. Hasil sampel air yang diambil saat ini dalam tahap uji laboratorium.

Hasil uji laboratorium itu, menurut Anang, segera dirilis pihaknya. "Saya tidak bisa menyebut angka (berapa pabrik yang terindikasi melakukan pembuangan limbah). Tetapi kalau ukurannya dari pH, dari bau, dari warna, itu semuanya," tutur Anang.

Jumlah pabrik terindikasi membuang sampah mencapai puluhan. Angka tersebut terus bertambah saat tim gabungan melaksanakan sidak ke 49 pabrik di sejumlah daerah Jabar pada 2-3 Februari 2018.

Sebelumnya Satgas Citarum Harum menemukan 31 pabrik yang dituding membuang limbah ke Citarum. Kini dari 49 yang disidak itu tercatat 39 yang dianggap merusak lingkungan Citarum.

"Kami sidak itu ada 39 dari seluruh kabupaten dan kota. Lokasinya di cekungan Bandung, kecuali Sumedang," kata Anang.


Menurut dia, dari total 39 perusahaan itu satu perusahaan di Kota Cimahi menolak untuk diperiksa Dinas Lingkungan Hidup. Pihaknya bersama pihak TNI dan Polri akan kembali memeriksa perusahaan tersebut. Sedangkan tiga perusahaan lainnya tidak beroperasi.

"Ada satu yang menolak (diperiksa) di Kota Cimahi. Mereka merasa ada beking kuat. Kita tidak tahu bekingnya siapa. Kita tunggu satu jam, mereka menyatakan tidak bisa menerima. Kita akan turun lagi dengan penyidik," tutur Anang.

Ia menuturkan, sidak yang dilakukan terbagi ke dalam tujuh zona yaitu empat zona di Kabupaten Bandung dan tiga zona di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi dan Kota Bandung. ""Zona satu itu meliputi Majalaya dan sekitarnya. Zona dua, Bojongsoang dan Rancaekek. Zona tiga, Dayeuhkolot dan empat Dayeuhkolot sampai Curug Jompong," ujar Anang.

Sampah di Citarum

Sampah masih memenuhi bibir Sungai Citarum yang berada di Kecamatan Bojongsoang-Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hal tersebut diketahui saat Dansektor VI Kol Inf Yudi Zanibar bersama puluhan anggotanya menyusuri aliran Sungai Citarum di Desa/Kecamatan Bojongsoang sampai Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.

"Kami sudah lima hari berada di bibir sungai, itulah kondisinya (masih dipenuhi sampah," kata Yudi kepada wartawan di aliran Sungai Citarum.


Yudi mengungkapkan hingga kini pihaknya terus gencar mendekati warga agar tidak membuang sampah ke aliran sungai. "Sampai saat ini kita masih melakukan sosialisasi dan pendekatan dengan warga, masih ada warga yang membuang sampah dan ada juga yang sudah sadar," ungkapnya

Yudi bersama 200 anggotanya yang dibantu sejumlah kelompok masyarakat masih menemukan kesulitan untuk membuang sampah warga yang menumpuk di bibir Citarum. "Ada sampah yang menumpuk karena tidak ada pembakaran dan alat pengangkutnya akhirnya dari pada dibuang ke sungai, atas kesepakatan sekuat warga kita laksanakan pembakaran," tutur Yudi.

Dinas Lingkungan Temukan Limbah Tekstil dan Kertas di CitarumAnggota TNI mengeruk tumpukan sampah di Sungai CItarum. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bukan hanya di bibir sungai, sampah terlihat menumpuk di aliran Sungai Citarum Lama, yang berada di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selain itu, kondisi Citarum lama menjadi dangkal.

"Lumpur dan sampah mengendap di dasar sungai. Kedalam sungai mencapai 2.5 meter, lumpurnya sekitar 1 meter tapi menyatu dengan lumpur," katanya.


Saat perahu melintasi aliran Citarum lama, belum sampai 200 meter mesin perahu mati karena baling-baling nya tersangkut sampah. "Gini mati terus mesinnya karena tersangkut sampah, ada karung bahkan kain (jenis sampah)," ujarnya

Yudi segera berkoordinasi dengan BBWS untuk mengatasi sampah di aliran sungai tersebut. Kini, dia menambahkan, sampah yang menumpuk itu sudah dibersihkan personel TNI.

"Saya akan koordinasi dengan BBWS bagaimana kendaraan alat berat untuk mengeruk sampah," kata Yudi. (bbn/bbn)