detikNews
Rabu 31 Januari 2018, 23:17 WIB

Tertutup Awan, Fenomena Super Blue Blood Tidak Terlihat di Bandung

Wisma Putra, Mukhlis Dinillah - detikNews
Tertutup Awan, Fenomena Super Blue Blood Tidak Terlihat di Bandung Foto: Mukhlis Dinillah
Bandung - Ratusan orang yang sengaja datang ke Gedung Sabuga Bandung gagal menyaksikan fenomena super blue blood moon. Sebab bulan tertutup langit Bandung yang mendung usai diguyur hujan sore tadi.

Sebelum melakukan pengamatan, ratusan warga sempat melakukan salat gerhana berjamaah di auditorium Gedung Sabuga, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu (31/1/2018) malam.

Para jamaah tampak khusyuk mengikuti gerakan imam. Salat berjamaah tidak hanya diikuti laki-laki tetapi juga perempuan.

Tertutup Awan, Fenomena Super Blue Blood Tidak Terlihat di BandungFoto: Mukhlis Dinillah


Salah satu panitia penyelenggara Muhammad Rezky mengatakan ada sekitar 500 orang yang akan mengikuti observasi gerhana total tersebut. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Bandung Raya.

"Jadi salat gerhana ini sebagai rasa syukur fenomena (gerhana) yang merupakan kuasa tuhan. Karena ini fenomena langka dan spektakuler. Jadi gerhana itu tidak perlu ditakuti, tapi disyukuri," kata Rezky di sela-sela kegiatan.

Selanjutnya, mereka secara bertahap naik ke lantai 4 Gedung Sabuga. Mereka lalu berbaris rapih menunggu giliran untuk menggunakan teleskop melihat fenomena gerhana total.

Namun sayang fenomena langka tersebut tidak terlihat. Hanya tampak langit mendung. Kendati demikian, para pengunjung yang hadir tetap antusias menjajal teleskop mengintip langit.

Salah seorang pengunjung Irina Harsita (40) mengaku kecewa tidak bisa melihat fenomena gerhana total ini. Namun, ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa lantaran adanya gejala alam.

"Kecewa sih, tapi mau gimana lagi karena hujan," kata Irina kepada detikcom di Gedung Sabuga, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu (31/1/2018).

Tertutup Awan, Fenomena Super Blue Blood Tidak Terlihat di BandungFoto: Mukhlis Dinillah


Ia mengaku sengaja datang dengan kedua buah hatinya untuk menyaksikan fenomena langka tersebut. Meski gagal melihat gerhana bulan, kedua putrinya tetap bahagia bisa menjajal teleskop.

"Ini pengalaman berharga buat mereka, saya lihat anak-anak senang," kata warga Buahbatu, Kota Bandung tersebut.

Pengunjung lainnya, Yuyun (37) mengaku tidak kecewa dengan tak tampaknya gerhana total. Sebab, sambung dia, putranya mendapatkan edukasi tentang fenomena gerhana.

"Tadi kan ada penjelasan, main ke galery astronomi juga, jadi tetap dapat edukasi juga. Jadi gak terlalu kecewa," kata warga Cibiru itu.

Hingga pukul 22.00 WIB, fenomena super blue blood moon tak kunjung tampak di langit Bandung khususnya di Gedung Sabuga. Para pengunjung secara bertahap mulai meninggalkan lokasi.

Tertutup Awan, Fenomena Super Blue Blood Tidak Terlihat di BandungFoto: Mukhlis Dinillah


Begitu pula di Observatorium Bosscha. Gerhana bulan super blue blood moon tidak tampak karena tertutup awan tebal. Sebelumnya, pada sore hari wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas sedang.

Selain itu, dari informasi yang dihimpun tidak hanya di wilayah Lembang, di wilayah Cimahi, Soreang, Rancaekek dan Kota Bandung, fenomena alam langka ini tidak dapat disaksikan akibat gangguan cuaca.

"Gerhana diprediksi mulai Pukul 18.48 WIB, kemudian fase total Pukul 19.58 WIB, karena cuaca seperti ini (gerhana bulan) tidak terlihat sama sekali," kata seorang Peneliti Observatorium Bosscha Erfan Wibisono.

Erfan mengungkapkan fenomena gerhana bulan total itu tidak dapat terlihat akibat cuaca. Hingga gerhana bulan total terjadi, awan tebal masih menyelimuti langit Lembang.

"Ada kabar di Ancol, Jakarta Utara nampak, sedangkan daerah yang lain tidak muncul. Awannya tebal sekali, kalau awannya tipis terlihat sepotong-sepotong," ungkapnya.

Pengamatan di Bosscha LembangPengamatan di Bosscha Lembang Foto: Wisma Putra


Menurutnya, gerhana bulan super blue blood moon jarang terjadi. "Sekarang ini gabungan antara peristiwa gerhana bulan blood moon, super moon, dan blue moon sehingga dalam rata-rata terjadi 192 tahun sekali," ujarnya.

Ia menambahkan gerhana bulan total akan kembali terjadi Tanggal 28 Juli mendatang. "Kemungkinan terjadi pada musim kemarau," tambahnya.

Namun menurutnya dibandingkan gerhana bulan super blue blood moon, gerhana bulan total yang akan terjadi Juli mendatang tidak akan seunik gerhana bulan super blue blood moon.

"Sebenarnya setiap peristiwa gerhana itu unik, karena posisi bumi, matahari dan bulan ini berbeda. Kalau yang sekarang sangat dekat dengan bumi, sehingga cocok untuk pengukuran bayangan bumi, seberapa besar, seberapa panjang karena durasinya jadi lama. Dibandingkan dengan nanti Juli lebih dekat yang sekarang," pungkasnya.

Tertutup Awan, Fenomena Super Blue Blood Tidak Terlihat di BandungFoto: Wisma Putra



(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed