Miris, Kakek Nenek di Cirebon Ini Tinggal di Gubuk Terpal

Sudirman Wamad - detikNews
Selasa, 30 Jan 2018 11:20 WIB
Foto: Sudirman Wamad
Cirebon - Seorang kakek yang tengah asyik bersantai di gubuk tiba-tiba menengok ke arah kereta yang melintas kediamannya. Wajahnya menunjukkan kepasrahan hidup. Gerbong kereta yang melintas ia perhatikan, hingga menjauh dari pandangannya. Kakek yang bertelanjang dada itu bernama Suhud.

Suhud bersama istrinya, Tarmini tinggal di gubuk terpal, tepatnya di Gang Kikuta Blok Kapling Jaya, Desa Adi Darma, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lokasi gubuk milik Suhud berada di areal pesawahan yang berdekatan dengan perlintasan kereta api, sekitar 600 meter dari Jalan Raya Sunan Gunung Jati Cirebon.

Puluhan tahun Suhud dan Tarmini tinggal di gubuk berwarna biru itu. Hanya pakaian dan karpet ala kadarnya. Kondisi gubuknya sangat memprihatinkan, jauh dari kata bersih.

Di samping gubuknya ada kolam yang warna airnya hijau. Kolam tersebut digunakan Suhud dan Tarmini untuk mandi dan mencuci pakaian. Sayang, Suhud tak bisa berbicara banyak saat detikcom bertamu ke gubuknya, lantaran kemampuan Suhud untuk mengingat sudah melemah.

Kadang tak nyambung saat ditanya. Saat ditemui detikcom, istrinya sedang tak berada di gubuk. Tarmini menurut Suhud sedang bekerja. Indra pendengaran Suhud pun mengalami gangguan.

Miris, Kakek Nenek di Cirebon Ini Tinggal di Gubuk TerpalFoto: Sudirman Wamad


Ruini (50), salah seorang tetangganya mengaku iba dengan kondisi pasangan kakek dan nenek itu. Menurut Ruini usia Suhud dan Tarmini lebih dari 70 tahun. Sayang, Suhud tak bisa menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) saat diminta oleh Ruini.

"KTP-nya ilang karena banjir. Saya baru ingat, sekitar enam tahun lalu di sini (Desa Adi Darma) mengalami kebanjiran. Nah, barang-barang milik Pak Suhud ini pada hilang," kata Ruini saat ditemui di gubuk milik Suhud, Selasa (30/1/2018).

Ruini kerap membantu kebutuhan Suhud dan Tarmini. Sesekali Ruini menengok pasangan kakek dan nenek itu digubuknya. Suhud tak bisa bekerja, kesehariannya hanya bisa dihabiskan di gubuk tersebut lantaran kakinya mengalami kelumpuhan.

"Sudah lama lumpuh, sudah tahunan. Ya gitu saja, di gubuk saja. Bi Tarmini yang kerja, biasanya jualan kangkung," ucap Ruini.

Menurut Ruini, Suhud dan Tarmini sudah puluhan tahun tinggal di gubuk. Suka dan duka hanya dinikmati berdua. Ruini tak mengetahui secara persis latar belakang keluarga yang sudah menginjak usia senja itu.

"Yang saya tahu sih puluhan tahun sudah di sini dan hanya berdua saja. Sebelum saya pindah ke desa ini, Pak Suhud dan Bi Tarmini sudah ada. Saya pindah sekitar delapan tahun lalu," ungkapnya.

Menurut Ruini, ketika tak ada kangkung yang bisa dijual, Tarmini kerap meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. "Kasihan, kadang tetangga ngasih buat makan. Orangnya mah biasa saja," katanya.

Ruini mengatakan gubuk milik Suhud itu berada di tanah milik pemerintah desa. Suhud dan Ruini sekadar menumpang untuk membangun gubuk. "Dari dulu memang di sini, cuma belum ada perhatian dari pemerintah setahu saya sih," katanya.

(ern/ern)