Tutupan Lahan di Hulu Sungai Citarum Kritis

Tutupan Lahan di Hulu Sungai Citarum Kritis

Mukhlis Dinillah - detikNews
Minggu, 28 Jan 2018 10:04 WIB
Sungai CItarum. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Sungai CItarum. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Kabupaten Bandung - Tutupan lahan di hulu sungai Citarum tersisa hanya 15 persen dari sekitar 230 ribu hektare lahan yang ada. Kondisi tersebut masuk dalam kondisi kritis dan menyebabkan terjadinya bencana alam di daerah sepanjang DAS Citarum.

Hal itu berdasarkan pemindaian dari citra satelit yang dilakukan Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan). Pemindaian kawasan hulu Citarum berlangsug selama 2017.

"Berdasarkan penginderaan jauh yang kami lakukan menggunakan citra satelit, tutupan lahan di hulu Citarum tersisa 15 persen," kata Kepala Bagian Admin Pusfatja Lapan Winanto saat dialog dengan tokoh masyarakat di hulu Sungai Citarum, di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (28/1/2018).


Ia menuturkan dari 15 persen tutupan lahan di hulu Citarum, hanya 8,9 persen yang merupakan hutan, sisanya semak belukar. Menurut Winanto, tutupan lahan si area tersebut saat ini masuk kategori kritis.

"Dengan hanya 8,9 persen hutan, tentu kondisi tutupan lahan di hulu Citarum kondisinya kritis," ujarnya.

Winanto menjelaskan kritisnya tutupan lahan di hulu Citarum disebabkan adanya pengalihan fungsi lahan dan pemukiman warga. Sehingga, sambung dia, perlu adanya lahan konservasi di hulu sungai ini untuk meminimalisir bencana alam.

Lebih lanjut dia menuturkan minimnya tutupan lahan akan berdampak terhadap erosi lahan ke Citarum. Sedimen menumpuk di Sungai Citarum terjadi pendangkalan yang mengakibatkan bencana banjir

"Rekayasa (alam) dengan tanaman yang bisa dijaga ekosistemnya. Misalnya tanaman kopi dan tanaman endemis lainnya yang ramah lingkungan," tutur Winanto.


Pangdam III/Siliwangi Mayjen Doni Monardo menyebut debit air normal Citarum mencapai 41 meter kubik per detik. Namun saat musim hujan debit air dapat menembus 578 meter kubik per detik. Sehingga, sambung dia, rawan terjadinya banjir dan longsor.

"Akibat hutan yang gundul, saat hujan air tidak terserap akhirnya tumpah semua ke sungai. Debit air naik berlipat-lipat hingga terjadi banjir dan longsor," ucap Doni dalam dialog.

Berbeda saat musim kemarau, debit air di Citarum surut drastis hanya 2,7 meter kubik per detik. Hal itu juga terjadi akibat hilangnya mata air dari tahun ke tahun karena minimnya kawasan konservasi, hutan lindung dan strategis.

"Penelitian di cekungan Bandung pada tahun 2009, terdata ada 300 mata air, namun pada tahun 2015 menurun menjadi 144 mata air. Kalau ini dibiarkan bukan tidak mungkin terus menurun," kata Doni yang juga Wadansatgas Penataan Ekosistem Sungai Citarum. (bbn/bbn)