Hal itu diceritakan oleh Oded saat memberi sambutan dalam acara Workshop Bahaya Rokok dan Pentingnya Kawasan Tanpa Rokok di Auditorium Rosada, Balai Kota Bandung, Kamis (25/1/2017).
"Dulu tahun 1987 waktu bujangan saya perokok berat karena saya bisa menghabiskan 2,5 bungkus gudang garam filter sehari. Dengan legegnya (belagunya) saya selalu bawa dua bungkus di tangan, ditambah gas zippo," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di saat itulah Oded bersama temannya terlibat diskusi cukup alot di rumah mulai Isya hingga menjelang Subuh. Dalam diskusi tersebut dibahas kajian mengenai rokok dari sisi Alquran dan hadis.
"Ternyata di quran dan hadis sudah lengkap semua. Seperti urusan etika makan saja sudah ada. Makanlah makanan dan minuman yang halal dan tidak merusak badan kalian. Saya berpikir wah bisa-bisa saya dicoret dari pengikut Nabi Muhammad SAW. Sejak itulah saya berhenti," ujarnya.
Selain itu hal lain yang membuat ia berhenti merokok adalah cerita mengenai seorang kiai besar yang semula merokok tiga bungkus per hari tiba-tiba berhenti. Sang kiai teringat jika setiap merokok tidak pernah berdoa. Dan hal itu dianggap merokok dekat dengan perbuatan setan.
Terakhir, kata Oded, adalah pengalaman gurunya sendiri yang seorang mayor TNI di Kodam III/Siliwangi. Saat itu sang guru baru saja pulang dari berceramah di Garut menggunakan bus.
Di dalam bus ia duduk bersama seorang pemuda. Sepanjang jalan keduanya berdiskusi soal agama sambil terus merokok. Rupanya di depan duduk seorang nenek yang sejak awal batuk-batuk karena merasakan asap rokok.
"Pemuda itu turun di Cileunyi sementara guru saya melanjutkan sampai Cicaheum. Saat pemuda itu turun, nenek itu mengeluarkan sumpah serapah agar pemuda itu kecelakaan," katanya.
Singkat cerita sang guru mendapat undangan untuk berceramah di daerah Cileunyi. Usai berceramah ia bertemu dengan pemuda yang dulu pernah bersama di dalam bus. Rupanya si pemuda menceritakan bahwa saat turun dari bus ia ditabrak motor.
"Begitu mendengar cerita pemuda itu langsung teringat doa si nenek. Sejak saat itulah guru saya langsung membuang rokok dan tidak merokok lagi," ucapnya.
Dari kisah tersebut Oded berharap banyak warga Kota Bandung yang berhenti merokok. "Kalau pun belum bisa berhenti, kita harus ingat di samping ada perokok pasif. Semoga kita bersama meninggalkan rokok, dan bersama menghindari bahaya rokok," ujar Oded.
(avi/avi)











































