DetikNews
Rabu 24 Januari 2018, 14:16 WIB

Cerita Esih Hidupi 4 Anak dan Suami Renta di Rumah Mirip Benteng

Syahdan Alamsyah - detikNews
Cerita Esih Hidupi 4 Anak dan Suami Renta di Rumah Mirip Benteng Rumah Esih yang mirip benteng/Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - Matahari belum sepenuhnya naik, Esih (42) sudah menyiapkan pakaian seragam untuk tiga orang anaknya yang bersekolah. Secangkir kopi dia siapkan untuk suaminya Mbah Suradianto (74), setelah itu dia bergegas untuk pergi mencari pekerjaan.

Apapun akan dilakukan Esih, mulai dari menyabit rumput, memanggul gabah, memijat hingga mencuci pakaian tetangganya. Hidup tidak sepenuhnya sulit menurutnya asalkan mau berusaha pasti rejeki akan didapat.

"Asalkan mau bergerak, asalkan tidak diam saja di rumah Insya Allah rejeki gampil (gampang). Hidup itu tinggal ngejalanin saja, tinggal milih mau diam saja berharap belas kasihan orang atau bergerak menjemput rejeki, ya gimana kitanya," tutur Esih, saat ditemui detikcom di kediamannya Kampung/Desa Selaawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Rabu (24/1/2018).
Suami Esih dan anaknyaSuami Esih dan anaknya Foto: Syahdan Alamsyah

Rumah yang ditinggali Esih sepintas mirip benteng, berbentuk kota memanjang ke belakang. Tidak ada genting di rumah itu. "Ini rumah dibangun sama si bapak udah lama, sekarang sudah bolong dan lapuk apalagi di ruang tengah dan belakang sebagian sudah ambruk," sambungnya.

Esih menikah kurang lebih 20 tahun dengan Mbah Suradianto, dari pernikahannya itu dia diberi 5 orang anak. Saat ini yang tersisa hanya 4 orang karena satu orang sulung pergi meninggalkan rumah dan menghilang hingga saat ini. Esih enggan membahas hilangnya putra sulungnya itu, dia lebih memilih menceritakan 4 orang anaknya yang saat ini tinggal bersamanya.

Mereka masing-masing bernama Hendra Pariswara (14), Naes Koppen (12), Brannopil (9) dan Supranoto (5). Mereka bersekolah, bahkan yang paling bungsu masuk Taman Kanak-kanak.

"Nama anak kedua dan ketiga dapat ngasih si bapak, makanya unik-unik orang bilang sebagian mirip nama orang bule. Katanya biar hidup serba kekurangan minimal anak-anak namanya keren-keren siapa tau suatu saat jadi orang besar," tuturnya.

Hendra sekolah kelas 2 SMP, sementara Naes dan Brannopil masih duduk di bangku SD. "Paling bingung itu kalau sepatu mereka mulai rusak, tapi Alhamdulillah kadang ada guru juga yang membantu belikan," ucap Esih.

Penghasilan Esih sehari paling besar Rp 30 ribu, itu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Naiknya harga beras membuat keluarganya terpaksa makan singkong dengan daun singkong sebagai lauknya.

"Singkong juga dapat pengasih orang, kadang sekarung saya kupasin. Singkong saya rebus, buat makan sekeliarga," lirihnya.

Esih kemudian berpamitan kepada detikcom, hari Rabu adalah jadwalnya bantu-bantu di salah satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). "Saya berangkat dulu, mau bantu-bantu di PAUD," pamit dia.


(avi/avi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed