Menjaga Habitat Blekok di Area Rancabayawak Bandung

Wisma Putra - detikNews
Senin, 15 Jan 2018 09:44 WIB
Burung blekok di kawasan Rancabayawak, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung - Petang datang. Sekawanan burung kuntul dan belekok kembali ke sangkarnya setelah seharian sibuk mencari makanan di sawah.

Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat, merupakan rumah terakhir bagi para burung yang bersahabat dengan para petani dan pengembala kerbau.

Di kampung yang dikenal sebagai salah satu kampung kreatif yang ada di Kota Bandung tersebut, sekawan burung blekok bermukim, bertelur dan beranak pinak.

Baca juga: Menengok Kampung Blekok di Bandung

Hampir 20 tahun bersarang di kampung tersebut, sejumlah pihak khawatir habitat ribuan burung blekok terancam terusir seiring pembangunan perumahan di Gedebage yang lokasinya berhimpitan dengan Kampung Rancabayawak.

"Habitatnya terancam, pasalnya tempat mereka mencari makan yaitu sawah sudah diurug menggunakan tanah untuk dijadikan perumahan, sehingga mereka harus mencari makanan jauh," kata Mak Empong (72), warga Kampung Rancabayawak, kepada detikcom, Sabtu (13/1/2018) lalu.
Menjaga Habitat Blekok di Area Rancabayawak BandungKampung Rancbayawak di Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Sebelumnya, gerombolan blekok tidak jauh untuk mencari makan. "Mereka hanya mencari makan di sawah yang dekat dengan sarang mereka," ucapnya.

Namun, Mak Empong mengungkapkan, karena sawah yang biasa menjadi tempat mereka mencari makan tergerus oleh pembangunan, burung-burung itu harus mencari makan dengan jarak yang cukup jauh.

"Ada yang ke Sapan (Kabupaten Bandung), Cijaura, pokonya jadi jauhlah mencari makannya. Sudah dapat makanannya kembali ke rumahnya (tempat burung itu bersarang)," ujarnya.

Meski pepohonan yang dijadikan sarang burung itu tidak tergerus oleh pembangunan, namun burung-burung itu kehilangan tempat mereka mencari makan.

"Memang habitatnya tidak terganggu karena mereka bersarang di pohon yang tidak di runtuh kan, tapi tempat mereka mencari makan hilang. Takutnya mereka pindah dan mencari tempat untuk dijadikan tempat mereka tinggal. Padahal Kampung Rancabayawak dikenal sebagai Kampung Blekok," tutur Mak Empong.

Pemkot Bandung menjamin habitat kampung blekok di area Rancabayawak tidak terusik. Sebab tim ahli dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung sudah mengatur agar pembangunan dapat seimbang dengan alam.
Menjaga Habitat Blekok di Area Rancabayawak BandungSebuah spanduk berisi permintaan warga agar kamoung blekok tetap lestari. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Burung jenis air tersebut memiliki fungsi ekologi yang penting bagi alam, seperti penyerbuk jenis-jenis tumbuhan dan pemangsa hama pertanian. Kedua burung ini sebelumnya mendapatkan perlindungan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Sementara, menurut Asep (56) seorang petani padi di daerah Sapan Kabupaten Bandung mengatakan, biasanya burung-burung itu mulai mencari makan sekitar pukul 05.30 WIB bersamaan dengan petani pergi ke sawah dan matahari terbit.

"Lalu jam empat hingga enam sore, burung-burung blekok pulang ke rumahnya (sangkarnya) di Kampung Rancabayawak," ucapnya.

Menurut Asep, setiap pagi burung-burung itu terbang ke empat arah penjuru angin untuk mencari makan dan pada saat senja tiba burung-burung itu akan pulang.

"Mereka akan pulang sendirinya, bergerombol ke pohon yang digunakan sebagai sangkarnya," kata Asep. (bbn/bbn)