detikNews
Rabu 27 Desember 2017, 17:29 WIB

Lika-liku Geng Motor di Sukabumi Saat Bergerak Hijrah

Syahdan Alamsyah - detikNews
Lika-liku Geng Motor di Sukabumi Saat Bergerak Hijrah Sejumlah anggota geng motor di Kota Sukabumi memilih hijrah. (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi - Sejumlah anggota dari berbagai kelompok geng motor di Kota Sukabumi berkomitmen insaf. Mereka semula seteru, kini bersatu. Ada cerita lika-liku mereka saat bergerak bertahap untuk hijrah.

Jauh hari sebelumnya, mengubah sebutan geng motor menjadi klub otomotif pernah digulirkan para pentolan. Namun cara itu tidak lantas memperbaiki citra negatif. Begitu juga aksi-aksi sosial dan berbagai santunan, tidak mengubah stigma masyarakat yang kadung melekat.

"Ada yang tidak suka jika kami berdamai, ada pihak yang menamakan diri 'antigengster'. Mereka ini justru yang selalu memperburuk citra kami. Basis mereka ada di sejumlah titik, mereka senang kalau Sukabumi tidak kondusif," kata Dimas Muharam, wakil ketua Moonraker, kepada detikcom di Yayasan Pendidikan Quran Adz-Dzakiroh, Jalan RA Kosasih, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (27/12/2017).

Baca juga: Kisah Geng Motor di Sukabumi Mulai Hijrah

Layaknya anak geng, menurut Dimas, gaya-gaya kumpulan antigengster ini membuat citra gerakan hijrah terganggu. Melalui postingan di media sosial, mereka kerap menyudutkan satu-persatu komunitas seperti Brigez, XTC, GBR, hingga Moonraker.

"Kalau ada wacana perdamaian misalnya, mereka yang menggembosi melalui aksi di media sosial dan aksi di lapangan. Mereka sengaja pakai atribut misalkan Moonraker, Brigez, XTC dan GBR kemudian membuat resah dan diposting," tutur Dimas.

"Saya pernah melakukan pengecekan salah satu postingan, katanya anak Moonraker bawa sajam (senjata tajam) pakai atribut. Setelah saya cek tidak ada anak kita bawa atribut atau bawa-bawa sajam," beber Dimas kesal.

Dimas mengaku tidak mengetahui maksud dari gerakan tersebut. Dia berpikir positif saja bahwa mungkin gerakan itu bermaksud agar Sukabumi tidak ada geng motor, namun cara digunakan keliru.

"Akhirnya terbentuklah citra negatif yang dialamatkan kepada kami. Jadi agak sulit ketika kami berniat ikut gerakan hijrah kemudian melakukan aksi tetap saja mendapat sorotan lain," ujarnya.

Bicara kelompoknya dibubarkan, menurut Dimas hal itu tidak bisa. Karena, sambung dia, kelompoknya sama sekali tidak ada keinginan berbuat kejahatan. "Organisasi kami dijadikan ajang kreatif, sosial dan wadah silaturahmi," ucapnya.

"Mereka punya atribut kita, punya seragam kita. Jadi sulit mendeteksi mereka dari mana-mananya," kata Dimas menambahkan.

Ustaz Nana Wijana, penggagas gerakan pemuda hijrah di Sukabumi, meminta dukungan masyarakat Kota Sukabumi soal niat hijrah sejumlah anggota geng motor. Nana memaklumi stigma masyarakat kepada geng motor.

"Wajar ada penilaian jelek, karena memang aksi-aksinya lebih banyak yang kelihatan itu jeleknya. Sementara bagusnya tidak terlihat, kalaupun terlihat jarang diposting," tutur Nana.

Ia mengapresiasi positif para anggota geng motor itu menggelorakan perdamaian. Selain itu, nyatanya kini mereka bersama-sama mulai ikut pengajian di Yayasan Pendidikan Quran Adz-Dzakiroh.

"Menjadi masalah itu ialah ketika di luar ada provokasi sampai berimbas ke masyarakat, ini yang saya tidak suka. Masyarakat ingin damai, geng motor ingin hijrah, tapi ada juga warganet atau masyarakat yang pesimistis dengan setiap aksi positif dilakukan mereka," ujar Nana.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed