Mimpi Deni 'Teman Orang Gila' dan Cerita Panti Tutup

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 20 Des 2017 11:52 WIB
Deni Solang. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Sukabumi - Deni Solang tak asing namanya bagi pegiat sosial di Sukabumi, Jawa Barat. Lelaki berusia 53 tahun itu berjuluk 'teman orang gila'. Bertahun-tahun Deni akrab bersama Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Semangat wiraswasta yang bergerak dalam bidang gemstone ini membara untuk mengurus dan menyembuhkan ODGJ. Ia pun inisiatif mendirikan tempat singgah orang tak waras berupa Panti Aura Welas Asih di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Baca juga: Ini Alasan 'Teman Orang Gila' di Sukabumi Tutup Panti Miliknya

Jauh hari sebelum kabar soal panti yang menampung orang gangguan jiwa ini tutup, detikcom pernah wawancara Deni. Ia bercerita mendirikan Panti Aura Welas Asih sejak 2014. Sebenarnya aksi baik Deni sudah bergulir sejak 2008.

Sudah banyak orang gangguan jiwa yang ia jaring dari jalanan. "Awalnya cuma memberikan nasi bungkus tiap sore, lalu nemu kendala. Mereka (orang gangguan jiwa) ini enggak diam di satu tempat, kadang mereka pindah-pindah. Akhirnya ada sedikit rezeki, saya bangun panti dan menempatkan mereka di situ," tutur Deni kepada detikcom pada 7 November 2017 di Panti Aura Welas Asih.
Mimpi Deni 'Teman Orang Gila' dan Cerita Panti TutupKeakraban Deni Solang dengan penghuni pantinya di Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah).
Berkeliarannya orang gila di Sukabumi, memicu keprihatinan Deni. Ia bermimpi agar Sukabumi bisa 'bersih' ODGJ.

"Tentunya bukan dengan cara kita masukin karung terus buang-buangin. Tapi dengan cara menampung mereka, menyembuhkannya, lalu mengaryakan mereka. Alhamdulillah itu sudah saya mulai sejak mendirikan panti," katanya.

Pada tahap pasien sembuh, Deni mengaryakan mereka di kebun. Ada beragam sayuran di kebun yang bersebelahan dengan panti, mulai dari mentimun hingga tomat. Hasil dari kebun digunakan untuk menambah lauk penghuni panti

Deni memiliki cara yang tak lazim dalam metode penyembuhannya. Berkomunikasi verbal dan sentuhan dengan rasa peduli ternyata bisa membuat penderita kejiwaan sembuh.

"Untuk total sampai dia kembali sembuh seperti sedia kala memang tidak. Tapi kalau terus menerus kita ajak mereka bersosialisasi, komunikasi, sentuhan, pelukan, mereka akan pulih. Minimal ketika mereka kita panggil namanya dan mengerti apa yang kita ucapkan juga sudah bagus," ujar Deni.

Hari berlalu, Deni tiba-tiba mengabarkan kabar pilu dan mengejutkan. Ia menutup panti tersebut. Hikayat baik nan inspiratif Deni dan relawan mengelola panti itu harus tamat.

"Usaha saya tidak selamanya baik, niat saya tulus ikhlas karena awal saya membuat panti ini untuk memanusiakan manusia. Namun lama-lama ODGJ tambah banyak, yang nitip dan datang sendiri, sampai akhirnya kita kerepotan," ucap Deni via telepon, Rabu (20/12/2017).
Mimpi Deni 'Teman Orang Gila' dan Cerita Panti TutupDeni Solang berbincang dengan salah satu penghuni yang baru masuk panti di ruang khusus. Lelaki mengalami gangguan jiwa itu sempat dipasung keluarganya sebelum diselamatkan Deni. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Deni mengaku dukungan warga Sukabumi amat besar agar pantinya dapat tetap bertahan. Ia tak memungkiri selalu saja ada bantuan pangan dari warga pasar, khususnya di Palabuhanratu Sukabumi. Namun bantuan itu tidak selamanya bisa diandalkan sepenuhnya karena banyak persoalan yang dihadapi panti yang Deni kelola.

"Hitung saja sekali makan 15 ribu rupiah kalikan tiga, kali lagi 60 orang, sudah berapa satu hari? Belum untuk biaya operasional sampai biaya mandi. Relawan memang tidak meminta bayaran, tapi tetap saja saya merasa bertanggung jawab untuk mereka," tutur Deni.

Menurut catatan Deni, sudah ratusan orang penderita kejiwaan yang telah mendapatkan perawatannya. "Lebih 300 penderita yang kita rawat sejak tahun 2014. Sebagian mereka datang dan pergi dengan kondisi sehat, bahkan ada yang masih menetap hingga hari ini," kata Deni. (bbn/bbn)