Tak Capai Target, Pemprov Jabar akan Evaluasi Program 300 Doktor

Tak Capai Target, Pemprov Jabar akan Evaluasi Program 300 Doktor

Mukhlis Dinillah - detikNews
Rabu, 06 Des 2017 12:08 WIB
Tak Capai Target, Pemprov Jabar akan Evaluasi Program 300 Doktor
Foto: Mukhlis Dinillah
Bandung - Pemprov Jabar akan mengevaluasi program 300 doktor yang digulirkan pada 2013 silam. Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar menyebut ada beberapa hambatan yang membuat program tersebut belum berjalan optimal.

Demiz sapaan Deddy Mizwar mengatakan program 300 doktor ini sangat baik untuk menunjang kinerja Pemprov Jabar. Sehingga, sambung dia, pihaknya mendukung penuh realiasi beasiswa studi S3 untuk para Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut.a

Namun, nyatanya hingga tahun ini sejak pertama digulirkan, program 300 doktor baru diikuti oleh sekitar 60 ASN. Padahal, sambung dia, ada sekitar 40 ribu ASN di lingkungan Pemprov Jabar yang memanfaatkan peluang beasiswa tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mungkin ada hambatannya mungkin peminatnya banyak tapi terganjal masalah syarat umur (maksimal 38 tahun), kedua minat studi yang tidak sesuai kebutuhan daerah jadi perlu dievaluasi, kita perlu banyak doktor padahal," kata Demiz kepada wartawan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (6/12/2017).

Menurutnya Pemprov Jabar memerlukan banyak dokter dan hasil-hasil riset yang dihasilkan. Sebab, sambung dia, riset bisa menjadi modal penting untuk perbaikan berbagai sektor yang jadi kelemahan Jabar selama ini.

"Kita perlu doktor dan hasil-hasil risetnya. Jadi yang mengabaikan dana riset itu sendiri ini akan tertinggal karena riset sangat penting," ungkap dia.

Ia menegaskan program beasiswa untuk para ASN ini perlu dilakukan evaluasi agar memberikan keleluasaan lebih kepada ASN yang ingin melanjutkan studinya. Sehingga, sambung dia, program 300 doktor ini bisa segera terealisasi.

"PNS kita ada puluhan ribu masa mencari 300 orang saja susah. Barangkali perlu dievaluasi apakah umur atau minat studi yang jadi hambatan karena disesuaikan kebutuhan daerah. 300 (doktor) saja menurut saya terlalu sedikit," tutur dia.

"Khawatirnya hasil riset mereka kalau tidak sesuai kebutuban daerah ya jadi nganggur. Ketika pulang ya enggak manfaat apa-apa, mereka malah pergi lagi ke luar negeri karena tempat mereka sekolah mengembangkan studi yang ia pelajari," kata Demiz. (avi/avi)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads