DetikNews
Sabtu 18 November 2017, 17:42 WIB

Gapit, Kue Gurih dan Renyah Khas Cirebon

Sudirman Wamad - detikNews
Gapit, Kue Gurih dan Renyah Khas Cirebon Kue gapit khas Cirebon. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Kabupaten Cirebon - Selain wajib mencicipi nasi jamblang, empal gentong, dan nasi lengko saat mengunjungi Cirebon, Jawa Barat, ada kuliner khas lainnya yang dapat diboyong pulang untuk oleh-oleh. Salah satunya kue gapit kering.

Kue memiliki diameter sekitar tiga sentimeter ini gurih dan renyah. Sentra produksi kue gapit itu berada di empat desa, yakni Desa Tuk, Setu Wetan, Panembahan, dan Kemlaka. Salah satu pemilik produksi rumahan kue gapit, Iskandar, mengatakan sejak tahun 1980-an keluarganya memulai usaha makanan tersebut.

"Ini sudah lama. Sejak orang tua saya masih duduk di bangku SMP. Turun temurun. Saudara saya juga usaha gapit," kata Iskandar saat ditemui di kediamannya, Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (18/11/2017).

Ia menyebut kue gapit hanya ada di Cirebon. Proses pembuatannya butuh keahlian dan ketelitian saat memasak. Kue gapit berbahan tepung dan rempah-rempah.

Disebut kue gapit, sambung Iskandar, karena proses pembuatannya diapit atau dijepit dengan alat. "Ya karena dijepit pakai alat. Terus dinamakan gapit yang memikiki arti jepit kalau dalam bahasa Indonesia," kata Iskandar.

Kue Gapit yang diproduksi olehnya memiliki empat varian rasa terdiri kacang, bawang, kelapa, dan keju. Namun, menurut dia, untuk rasa keju diproduksi saat ada pesanan dari konsumen.
Gapit, Kue Gurih dan Renyah Khas CirebonPembuatan kue gapit. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Iskandar menjelaskan penjualan makanan khas Cirebon ini mulai mengalami penurunan. Jika sebelumnya ia mampu menjual kue gapit sebanyak 25 kilogram per hari, akhir-akhir ini hanya 10 kilogram per hari. Imbasnya, Iskandar mengalami penurunan omzet.

"Dulu bisa meraup keuntungan 10 juta rupiah per bulan. Sekarang menurun, cukup lah intinya mah," ujarnya.

Kue gapit rasa bawang dan kacang dihargai Rp 25.000 per kilogram. Sedangkan rasa kelapa hanya Rp 20.000 per kilogram. Iskandar mengaku sempat mencoba memasarkan kue gapit hasil produksinya melalui minimarket. Namun, karena bungkusnya dinilai masih kurang baik, pihak minimarket meminta Iskandar untuk memperbaiki kemasan.

"Cuma karena kemasan saja. Plastiknya harus diganti, harus lebih tebal. Tapi ini kan perlu modal juga untuk mengubah kemasan. Tentu ini membuat kami berpikir ulang," ucap Iskandar.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed