DetikNews
Kamis 19 Oktober 2017, 16:50 WIB

Mengintip Masjid Pejlagrahan, Bangunan Purbakala di Cirebon

- detikNews
Mengintip Masjid Pejlagrahan, Bangunan Purbakala di Cirebon Masjid Pejlagrahan/ Foto: Sudirman Wamad
Cirebon - Penyebaran agama Islam di Pantai Utara Jawa tak terlepas dari sejarah Cirebon. Di Kota Wali ini terdapat masjid tertua. Bahkan usianya melebihi usia Masjid Agung Sang Cipta Rasa di lingkungan Keraton Kasepuhan yang dibangun abad 14 lalu.

Masjid tertua di Cirebon itu memiliki nama Masjid Pejlagrahan. Lokasinya tak jauh dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yakni di Kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Luas Masjid Pejlagrahan ini memang tidak lebih luas dari masjid tertua lainnya di Cirebon.
Luas Masjid Pejlagrahan ini memang tidak lebih luas dari masjid tertua lainnya di Cirebon.Luas Masjid Pejlagrahan ini memang tidak lebih luas dari masjid tertua lainnya di Cirebon. Foto: Sudirman Wamad

Ruang utamanya hanya memiliki luas 8x6 meter. Namun, Masjid Pejlagrahan hingga kini masih digunakan sebagai tempat beribadah. Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman mengatakan pembangunan Masjid Pejlgrahan itu sekitar 100 tahun sebelum berdirinya Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

"Menurut cerita memang Masjid Pejlagrahan ini tertua di Cirebon. Kalau dulu disebutnya tajug, karena kecil. Rapat untuk membangun Masjid Sang Cipta Rasa itu di sini," kata Sulaeman saat ditemui detikcom di Masjid Pejlagrahan, Kamis (19/10/2017).
 Ruang utamanya hanya memiliki luas 8x6 meter. Namun, Masjid Pejlagrahan hingga kini masih digunakan sebagai tempat beribadah. Ruang utamanya hanya memiliki luas 8x6 meter. Namun, Masjid Pejlagrahan hingga kini masih digunakan sebagai tempat beribadah. Foto: Sudirman Wamad

Diceritakan Sulaeman, pembangunan Masjid Pejlagrahan awalnya diperuntukkan bagi nelayan yang bersandar di Cirebon. Dulu, sambungnya, wilayah Kasepuhan dan sekitarnya merupakan wilayah pesisir. Sehingga, Masjid Pejlagrahan dibangun untuk tempat ibadah dan singgah nelayan.

Lebih lanjut ia mengatakan Masjid Pejlagrahan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang dikenal juga sebagai Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Walasungsang. "Sekarang sudah menjadi permukiman. Posisi masjid pun kini berada di tengah permukiman. Ini termasuk peninggalan Pangeran Cakrbuana. Sampai sekarang kita rawat, masjid ini masuk dalam benda purbakala Pemrov Jabar dan Pemkot Cirebon," katanya.

Sulaeman mengaku Masjid Pejlagrahan sempat mengalami pemugaran pada 11 Juni 1994. Karena tembok masjid sudah lapuk. Kemudian, Masjid Pejlagrahan pun diperluas, yakni dibagian depan dan samping. Namun, Sulaeman mengatakan ruang utama masjid tetap asli tanpa mengalami perubahan.

"Kalau ruang utama kaya gitu dari dulunya. Tapi, karena batu batanya sudah lapuk kita tutup dengan keramik. Tujuannya untuk menjaga keaslian, kalau pun keramiknya dibuka batu batanya masih ada," ucapnya.
Masjid Pejlagrahan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang dikenal juga sebagai Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Walasungsang.Masjid Pejlagrahan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang dikenal juga sebagai Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Walasungsang. Foto: Sudirman Wamad

Di ruang utama Masjid Pejlagrahan itu terdapat mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sulaeman mengatakan mimbar tersebut asli peninggalan terdahulu. Untuk masuk ke ruang utama masjid harus menundukkan kepala, karena pintu masjid yang pendek.

"Pintu, jendala, mimbar, langit-langit, dan lainnya mayoritas masih asli. Setiap hari Kamis ada majelis taklim di sini. Yang ziarah ke sini juga banyak," katanya.

Selain ziarah, sambungnya, Masjid Pejlagrahan juga sering dijadikan sebagai obyek penelitian mahasiswa. "Banyak yang ke sini, mahasiswa Malaysia dan Singapura pernah ke sini," ucapnya.

Selain membangun masjid, Pangeran Cakrbuana juga meninggalkan dua sumur yang dijadikan sebagai sumber air untuk kebutuhan Masjid Pejlagrahan.


(avi/avi)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed