Sukabumi Daerah Tertular Rabies Tertinggi di Jabar

Sukabumi Daerah Tertular Rabies Tertinggi di Jabar

Syahdan Alamsyah - detikNews
Sabtu, 07 Okt 2017 15:11 WIB
Sukabumi Daerah Tertular Rabies Tertinggi di Jabar
Dirjen PKH menyerahkan bantuan 20 ribu dosis vaksin rabies untuk anjing. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Sukabumi - Rabies dianggap sebagai salah satu zoonosis utama dan selalu menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Kabupaten Sukabumi menduduki rangking tertinggi di antara beberapa daerah lainnya di Jabar yang tertular rabies.

Hal tersebut diungkapkan Kasubdit Pemberantasan Penyakit Kementerian Pertanian Muhammad Syibli. Menurut dia, peranan semua sektor dalam pemberantasan rabies sangat diperlukan, begitu juga dengan kesadaran masyarakat untuk memberikan vaksin kepada hewan peliharaannya.

"Di Jawa Barat itu ada Sukabumi, Garut, Cianjur, dan Bandung untuk Bandung daerahnya saya lupa mesti di konfirmasi lagi, yang pasti Sukabumi tingkat tertularnya paling tinggi. Makanya kita bantu dan berantas di sini, sementara di Cianjur, Garut dan Bandung itu hanya sporadis beberapa titik lokasi," kaya Syibli usai acara "World Rabies Day' di Cikembar, Sukabumi, Sabtu (7/10/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syibli menjelaskan, lalu lintas Hewan Penular Rabies (HPR) di Sukabumi sangat tinggi, yang ada saat ini anjing kerap digunakan untuk berburu dan konsumsi. Sementara pemilik atau pengumpul anjing sendiri sembunyi-sembunyi dan enggan membuat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

"Pengawasannya lemah, nilai ekonomisnya tinggi mereka (pemilik) umpet-umpetan tidak punya SKKH. Faktor untuk mengurangi itu adalah kekompakan dan sinerginya semua sektor dan kesadaran masyarakat untuk melek resiko penularan rabies ini," ujar Syibli.

Dunia sendiri dikatakan Syibli sudah mencanangkan One Health yang artinya penanganan rabies tidak menjadi beban satu institusi saja tapi seluruh elemen pemerintah bersama-sama bergerak untuk memberantas rabies.

Untuk membebaskan rabies tidak bisa dibebankan ke Kementerian Pertanian saja, harus menjadi masalah bersama. Baik pemerintah pusat, kementerian lembaga hingga daerah akan terlibat. "Enggak bisa anjing urusannya Kementan, orang urusannya Kemenkes hanya dua lembaga itu sudah enggak bisa, sementara dunia sudah mengusung konsep One Health satu kesehatan dan tanggung jawab semua," tuturnya.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyampaikan, saat ini daerah yang telah berhasil dibebaskan dari rabies, yaitu Jatim, Jateng, Yogyakarta, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan NTB.

Sedangkan untuk pulau yang telah bebas rabies, yaitu Pulau Weh, Pulau Pisang, Pulau Enggano, Kabupaten Meranti dan Kepulauan Mentawai.

"Untuk di Jabar area kecil tapi jelimet (masalah rabies), artinya anjing itu kan ada di kampung-kampung. Intinya harus dibentuk komitmen bersama antara pemerintah pusat dan kabupaten, jangankan Sukabumi seluruh kabupaten bisa kita selesaikan. Harus ada sistem pemberantasan terstruktur," ujar Diarmita.

"Target 2030 dunia terbebas rabies bisa kita wujudkan asalkan ada komitmen bersama semua pihak itu kuncinya. Bagi kita cukup bagikan vaksin ke setiap puskesmas, selesai itu (masalah rabies)," kata Diarmita. (bbn/bbn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads