Batik Lokatmala Digemari Bule Karena Pakai Pewarna Alami

Syahdan Alamsyah, Syahdan Alamsyah - detikNews
Senin, 02 Okt 2017 15:12 WIB
Batik Lokatmala/Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - Gerai Batik Lokatmala di Kota Sukabumi, Jawa Barat dikenal hingga ke mancanegara. Salah satu yang disukai bule, adalah proses membatik yang menggunakan pewarna dari bahan alami.

Kebanyakan wisatawan mancanegara mengenal Lokatmala dari kawan mereka yang pernah mempelajari seni lukis batik di gerai yang beralamat di Jalan Kenari No 20 Z, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole.

"Dulu hingga saat ini, banyak pelajar dari Dutch Art Institute yakni Sekolah kesenian di Arnhem, Belanda yang mempelajari seni lukis batik. Pelajarnya sendiri berasal dari banyak negara ada dari Amerika, Yunani, Jepang, Malta. Dari mereka lah kami dikenal hingga ke luar negeri," kata Fonna Melani, pemilik gerai Batik Lokatmala, kepada detikcom Senin (2/10/2017).

Baca Juga: Mengenal Batik Lokatmala Sukabumi, Batiknya Para Jawara

Dikatakan Fonna, para mahasiswa asing saat mempelajari dan belajar membatik lebih tertarik penggunaan pewarna alam saat melukis. "Mereka memilih pewarna alam karena dianggap lebih natural, bahannya juga yang ada di alam dan lebih mudah dicari," lanjutnya.

"Mereka kumpulkan bahannya kemudian ada yang parut sendiri meramu sendiri dan mulai mewarnai sketsa pembatas yang sudah dilukis menggunakan cairan malam (lilin)," imbuhnya.

Bule yang datang disebut Fonna mengaku senang dengan batik buatannya sendiri yang kemudian mereka bawa pulang ke negara asalnya, lalu diperkenalkan kepada teman mereka di luar negeri.

Dijelaskan Fonna harga jual batik per lembarnya tergantung pemilihan dan penggunaan bahan pembuatnya. Pewarna alam memiliki harga jual lebih tinggi dibandingkan pewarnaan menggunakan bahan lainnya, kain sintetis dan kain dari alam seperti serat kapas dan sutra juga akan mempengaruhi harga.

Untuk satu lembar batik ukuran standar panjang 2 meter dan lebar 1 meter 10 senti dihargai Rp 400 ribu hingga Rp 2 Juta. Harga itu bisa berbeda tergantung bahan kain dan pewarna.

"Berbicara harga batik juga tergantung kepada detil motif yang dibuat, pemilihan kain dan bahan pewarna juga menentukan harga. Selain itu jenis lukis dan cap juga harganya bisa berbeda, cap lebih cepat sementara lukis bisa memakan waktu hingga 2 bulan. Yang pasti kami tidak mempunyai batik printing karena itu dianggap melanggar pengakuan warisan budaya dari UNESCO," ucapnya.

Pewarna alam yang dimaksud Fonna terbuat dari daun suji, daun alpukat, limbah sabut kelapa, kulit kayu mahoni, jengkol, jantung pisang. "Coklat bisa dipakai limbah sabut kelapa, kalau jantung pisang menghasilkan warna silver. Kita ambil bukan getah tapi pigmen warnanya yang diambil," ujarnya

(/avi)