Hal itu diungkapkan pria yang akrab disapa Emil usai menjadi inspektur upacara Peringatan Kesaktian Pancasila 2017 di Plaza Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Kota Bandung, Senin (2/10/2017).
"Kita sebagai umat beragama memahami ada nikmat-nikmat Allah yang turun ke Kota Bandung tidak dengan cara mudah," ujar Emil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mau tinggal di Kota Bandung harus menjunjung tinggi sebuah nilai yang disepakati yaitu Pancasila," katanya.
Emil mengatakan, ungkapan tersebut terkesan klise namun pada kenyataannya memang seperti itu. Contohnya, lanjut Emil, keberadaan negara-negara yang kini tengah berkonflik dapat dipastikan diawali oleh perang ideologi atau perang keyakinan.
Agar hal tersebut tak terjadi maka Emil sudah membuat benteng pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila mulai dari sila pertama seperti Magrib Mengaji dan Subuh Berjamaah.
Kemudian sila kedua yang dicerminkan dengan pengumpulan sejumlah bantuan kemanusiaan untuk korban bencana seperti Gunung Agung Bali dan Rohingya. Sementara sila ketiga diwujudkan dengan keberadaan Sekolah Ideologi Kebangsaan dan menjadi pembina upacara di sekolah-sekolah.
"Urusan demokrasi (sila keempat) juga kita sangat baik. Urusan keadilan sosial (sila kelima) kita ada Kredit Mesra dan Kredit Melati," beber Emil.
Menurut Emil sejauh ini tidak ada dinamika yang berimbas pada jalannya pemerintahan sebab Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda) sangat solid. Sehingga setiap ada pergerakan yang membahayakan atau mencurigakan bisa diatasi melalui komunikasi.
"Bahkan kemarin acara nobar (G30S/PKI) juga sangat ramai. Di setiap kelurahan sudah saya perintahkan mengakomodir warga sehingga bisa tetap mengingat (sejarah) jangan sampai lengah lagi," tandas Emil. (avi/avi)











































