DetikNews
Rabu 20 September 2017, 13:46 WIB

Seribuan Buruh PT PanAsia Bandung Demo Tolak PHK Sepihak

Wisma Putra - detikNews
Seribuan Buruh PT PanAsia Bandung Demo Tolak PHK Sepihak Demo Karyawan Pabrik PT Panasia Indo Resourches (Foto: wisma putra)
Kabupaten Bandung - Seribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Bandung melakukan aksi demonstrasi di Gerbang PT PanAsia Indo Resources di Jalan Raya Dayeuhkolot-Moh Toha Kabupaten Bandung.

"Ini aksi keprihatinan kita terhadap nasib karyawan PanAsia. Sekitar 3.000 karyawan nasibnya tidak menentu, perusahaan yang dipimpin oleh sodara Endriko menutup operasional dengan waktu yang tidak ditentukan," kata pimpinan aksi yang juga Ketua SPSI Kabupaten Bandung Uben Yunara di atas mimbar, Rabu (20/9/2017).

Pantauan detikcom, seribuan masa aksi melakukan demonstrasi sekitar Pukul 10.30 WIB. Sebelumnya mereka melakukan long march dari halaman Komplek Pergudangan Bulog Citereup, Jalan Raya Dayeuhkolot-Moh Toha titik kumpul pertama long march sejauh dua kilo meter.

Uben mengungkapkan, para pekerja dan buruh PanAsia sebentar lagi yang jumlahnya sekian ribu orang akan terkena dampaknya akibat pemutusan kerja.

"Kami menolak adanya PHK karena PHK adalah awal kesengsaraan bagi huruh. Kami meminta dan mendorong kepada manajemen perusahaan supaya menjalankan lagi organiasasi perusahan dengan sebaiknya, seefisien sehingga PHK bisa dihindari dan kami akan melakukan upaya yang lebih besar demonstrasi besar-besaran jika masih belum ada kejelasan dari perusahaan," ungkapnya.

Selain itu, Uben juga meminta bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya Bupati Bandung Dadang M Naser dan Disnaker Kabupaten Bandung.

"Kami meminta bantuan kepada Pemerintah agar PHK dapat dihindari dan perusahaan dapat menjalankan kembali operasionalnya. PHK adalah awal kesengsaraan buruh dan warga di Kabupaten Bandung," kata Uben.

Salah satu karyawan Irwan (31) warga Banjaran, sudah 10 tahun menjadi karyawan PT PanAsia Indo Resources. Ia bekerja di perusahaan tekstil itu sejak bujangan hingga ia menikah dan memiliki anak.

Kepada detikcom Irwan mengaku gajih bulanan di PT PanAsia Indo Resources digunakan untuk menafkahi isteri dan dua anaknya yang saat ini masih berumur tiga dan lima tahun.

"Gaji setiap bulannya mencapai Rp 2.275.000," kata Irwan.

Irwan mengungkapkan sejak Bulan Mei 2017 lalu kontrak kerjanya diputuskan secara sepihak. Padahal tambah Irwan, ia masih memiliki masa kerja hingga Tahun 2018 mendatang.

Tidak sendiri, nasib yang sama dirasakan teman-temannya sedama karyawan kontrak di PT PanAsia Indo Resources. "Pekerjaan kami diputuskan secara sepihak dan harus mengundurkan diri secara paksa," ungkapnya.

Selain itu, Irwan juga tidak mendapatkan pesangon. Padahal pas penutusan kontrak ia dijanjikan akan diberi pesangon satu bulan gajih, namun hingga kini pesangon tersebut tak kunjung cair.

"Bukan hanya itu Jamsostek tidak dibayarkan oleh pihak perusahaan padahal gajih karyawan selalu dipotong dan karyawan pun tidak mendapatkan uang makan (kupon makan) dan uang transport (jemputan bus)," ujar Irwan.

Irwan menuturkan, kondisi tersebut dirasakannya satu tahun terakhir sejak ganti pimpinan perusahaan. "Sama pimpinan sebelumnya biasa normal, pas ganti kepemimpinan jadi kacau. Serba nunggak Jamsostek, uang makan dan transportasi satu tahun lebih tidak ada," tuturnya.

Sejak diputuskan kontraknya ia kini berwirausaha berdagang makanan ringan bersama isterinya. "Kalau dagang penghasilannya ga tetap. Kalau kerjakan tetap, saya harap perusahaan jalan lagi dan dapat direkrut lagi," harapnya.

Sementara itu, Ketua PUK SPSI PT Panasia Indo Resources yang sekaligus karyawan di perusahaan tersebut yang kini sudah di rumahkan Afiril Juhana mengatakan ia bersama buruh di Kabupaten Bandung melakukan aksi demonstrasi demi menyelamatkan nasib karyawan di PT Panasia yang telah banyak dirumahkan sejak tiga bulan terakhir.

"Kondisi di Panasia proses produksi dihentikan total dan kurang lebih 1.000 orang karyawan dirumahkan sementara 1.000 orang lainnya tenaga kontrak terancam dirumahkan," katanya.

Menurutnya, perusahaan merumahkan karyawan dengan jangka waktu yang tidak ditentukan. Bahkan ke depan diprediksi akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Oleh karena itu, pihaknya meminta agar perusahaan mengambil langkah penyelamatan bagi karyawan.

"Alasan perusahaan tidak lagi memproduksi karena tengah mengalami kesulitan keuangan," pungkasnya.
(avi/avi)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed