Ini Penyebab Warga Andir Kota Bandung Tidak Bahagia Versi Survei

Ini Penyebab Warga Andir Kota Bandung Tidak Bahagia Versi Survei

Mukhlis Dinillah - detikNews
Jumat, 08 Sep 2017 13:37 WIB
Foto: Istimewa
Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyebut warga Andir adalah yang paling tidak bahagia di Kota Bandung versi survei indeks kebahagiaan 2017. Kenapa?

Hasil survei yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) bersama Laboratorium Quality Control Departemen Statistika Universitas Padjajaran (Unpad) menunjukkan Antapani paling bahagia sementara Andir sebaliknya.

Kepala Bappelitbang Kota Bandung Heri Antasari mengatakan survei dilakukan terhadap sekitar 3 ribu responden kepala rumah tangga, remaja dan orang miskin. Penilaian berdasarkan 10 aspek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menuturkan aspek itu meliputi pekerjaan, pendapatan rumah tangga, rumah dan fasilitas rumah, pendidikan, kesehatan, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, ketersediaan waktu luang, lingkungan, dan keamanan.

"Jadi nilai dari 10 aspek penilaian itu dirata-ratakan nilainya 65,03. Kalau disebutkan pa Wali paling besar itu Antapani nilainya 92,93 rata-ratanya, jadi dia dianggap paling tinggi, yang lainnya itu rata-ratanya 70 an," kata Heri saat dihubungi via telepon genggam, Jumat (8/9/2017).

Menurutnya ada tiga aspek penilaian Andir yang terbilang rendah. Di antaranya pendidikan, rumah dan fasilitas rumah serta kesehatan. Namun, demikian skornya tidak berbeda jauh dengan aspek penilaian lainnya.

"Sebetulnya rata hanya beda-beda koma, dia yang paling tinggi 70 nilainya. Rendahnya 62,03 pendidikan, rumah dan fasilitas rumah, kesehatan," ungkap dia.

Dia mengatakan indeks kebahagian tertinggi itu berada di angka 65 - 75. Sehingga, apabila melihat rata-rata hasil survei, Andir masih bahagia. Akan tetapi dibandingkan wilayah lainnya paling rendah nilainya.

"Andir itu nilainya di 65,03 sebetulnya masih tinggi dan bahagia tapi di antara kecamatan lain paling rendah nilainya," tutur dia.

Disinggung terkait sejarah demografi, Heri menjelaskan survei yang berlangsung beberapa lalu tidak menyinggung terkait hal tersebut. Sebab, sambung dia, perlu kajian lebih mendalam untuk mengetahuinya.

"Saya belum pegang data (demografi) dan dalam studi ini tidak mendalami kaitan demografi ya. Tapi kalau mau dikait-kaitkan perlu ada kajian tersendiri itu. Apakah karena kepadatan penduduk, apakah penduduknya tua dan muda harus ada kajian tersendiri," kata Heri. (ern/ern)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads